Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Perempuan Penyendiri

                (Source: favim.com)                Aku melirik jam yang tertera jelas di layar laptopku, kira-kira sudah tiga jam, aku duduk di kafe ini, menunggu hujan reda. Tepat di depan meja tempatku duduk, aku melihat sosok perempuan yang sama dengan perempuan yang ku lihat sepekan lalu, ia mengenakan pashmina berwarna hitam, wajahnya tak bergerak sedikitpun dari depan kaca jendela besar di sisi kirinya. Aku tak bisa melihat jelas wajahnya, hanya hidung mancung dan bibir tipis yang diulas gincu warna buah cherry, yang berhasil tertangkap pengelihatanku. Ku yakin perempuan ini cantik. Namun aku sangat menyayangkan waktunya yang terbuang sia-sia, karena Ia habiskan dengan duduk diam di sana bersama lamunannya. Ah, bodoh. Aku malah memperhatikan orang lain sedangkan pekerjaanku terbengkalai karena tak ku sentuh. Tapi, perempuan itu sangat mencuri perhatiank...

Hei Idiot!

Hei, orang-orang idiot!  Bagaimana pekerjaan kalian? Berantakan? Ya pastilah. Kapan kalian berhenti mengajakku begadang? Tak tahu? Dasar idiot.  Jangan marah aku panggil idiot. Apa namanya kalau bukan orang idiot? Orang-orang yang sok kuat dengan angin malam, sepulang kerja bukannya pulang istirahat, malah sibuk mencari makan berkeliling kota. Kurang idiot apa?  Ya, maaf-maaf. Bukan kalian saja, aku masuk ke dalamnya.  Ya Tuhan, tak sanggup aku membayangkan kita yang tak akan lagi bersama.  Ketololan-ketololan yang kita pupuk tiap malam, kini tumbuh menjadi kisah yang layak dibagi pada siapapun yang membaca surat ini.  Mereka adalah keluargaku yang lain, yang mengajarkanku untuk menjadi atlet begadang, bagaimana tidak? keluyuran tengah malam, pulang waktu subuh. Heh kalian! Aku ini perempuan!  mereka akan bilang. "Gak peduli."  Terserahlah, peduli atau tidak. Harus ku akui dalam surat ini bahwa aku menyayangi mereka.   Berjanjilah kepadaku, k...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

Kita yang Masih Ada

28 Januari 1995 Lahir seorang anak perempuan, anak itu kini tumbuh besar dengan beribu pengalaman yang menyakitkan, pengalaman-pengalaman itulah yang mampu membuatnya kuat.  Bor!  Bagaimana rasanya menjadi dewasa? Beberapa hari lalu, usiamu tepat 21 tahun, hahaha, aku tak pernah menyangka menjadi saksi atas pertambahan usiamu itu.  Hm, aku tahu mungkin kamu kecewa, aku belum mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, baiklah, aku ucapkan di tulisan ini, Selamat Ulang Tahun, Bor!  Untukmu juga, yang sekarang hanya mempunyai waktu sedikit untuk pertemuan kita. Bagaimana kabarmu? Ku yakin baik, ada seseorang di sana yang menjagamu. Aku sengaja menulis surat ini, dalam rangka 30 Hari Menulis Surat Cinta, ku tuliskan dengan segala rasa terima kasih dan syukurku, karena aku memilikimu.  Bagiku, cinta yang sebenarnya adalah kita, yang sampai saat ini masih ada.  Kau tak perlu khawatir takut terlupakan, tak perlu. Tahukah betapa istimewanya kamu dan Gr...

Kita yang Entah

Semestinya aku tak perlu menulis ini, Ma. Semestinya aku mengatakannya padamu, karena aku tahu, kamu tak punya banyak waktu untuk membaca tulisanku, tapi tak apa. Aku menulis, untuk menunjukkan cintaku padamu, dengan cara yang lain.  Ma, bolehkan aku memohon ampun atas dosa-dosa ku padamu? Anak perempuanmu ini sudah banyak melukai hatimu, anak perempuanmu ini banyak melakukan kesalahan. Ma, jangan pernah berpikir bahwa aku tak rindu rumah, atau sekadar berbicara banyak hal denganmu. Aku selalu rindu, tapi rumah kita, bukan tempat yang baik untukku. Ma, maafkan aku, karena aku selalu mencari kebahagiaan di luar sana, maafkan aku tak pernah berbagi waktu pada keluarga kita, di bawah atap sederhana, dan menjejaki kaki di lantai keramik rumah kita yang tak mewah.  O, ya. Kabar Ayah gimana ya, Ma?  Di luar sana sedang turun jutaan rintik air yang sudah fasih disebut hujan, pasti dingin. Embusan angin pun menari-nari di udara, menggingilkan seluruh mahluk yang merasakannya. Apa...

Kau Adalah......

....rumah atas segala kekhawatiranku.  Tuan, bagaimana rasanya menjadi kekasih seorang perempuan rewel, super cengeng sepertiku?  Adakah rasa ingin menyerah di dalam hatimu?  Maafkan aku, Tuan. Sebab, selalu membuatmu merasa bahwa cintamu tak pernah cukup.  Asal kau tahu, cintamu selalu cukup. Hanya saja, komposisi dalam setiap hubungan bukan cinta saja, hal itu membutuhkan beberapa persen kepercayaan, komitmen, keterbukaan, dan masih banyak yang lainnya.  Aku sama sekali tak pernah meragukan cintamu, tak pernah. Sebab, aku yang memilihmu, sebab, aku juga mencintaimu.  Tapi kasusnya adalah, aku yang ragu dengan cintaku. Aku ragu apa cintaku sudah benar padamu?  Hari-hariku habis untuk mengais, Tuan. Mengais kepercayaan yang aku kumpulkan dari serpihan-serpihan kabar yang kau tinggalkan.  Bisakah aku menjaga kita? Sedangkan aku, tak pernah merasa hadirku ada.  Bagaimana caranya, Tuan?  Aku terlampau jauh mencintamui, aku terlampau jauh me...