Semestinya aku tak perlu menulis ini, Ma. Semestinya aku mengatakannya padamu, karena aku tahu, kamu tak punya banyak waktu untuk membaca tulisanku, tapi tak apa. Aku menulis, untuk menunjukkan cintaku padamu, dengan cara yang lain.
Ma, bolehkan aku memohon ampun atas dosa-dosa ku padamu? Anak perempuanmu ini sudah banyak melukai hatimu, anak perempuanmu ini banyak melakukan kesalahan. Ma, jangan pernah berpikir bahwa aku tak rindu rumah, atau sekadar berbicara banyak hal denganmu. Aku selalu rindu, tapi rumah kita, bukan tempat yang baik untukku. Ma, maafkan aku, karena aku selalu mencari kebahagiaan di luar sana, maafkan aku tak pernah berbagi waktu pada keluarga kita, di bawah atap sederhana, dan menjejaki kaki di lantai keramik rumah kita yang tak mewah.
O, ya. Kabar Ayah gimana ya, Ma?
Di luar sana sedang turun jutaan rintik air yang sudah fasih disebut hujan, pasti dingin. Embusan angin pun menari-nari di udara, menggingilkan seluruh mahluk yang merasakannya. Apa Ayah baik-baik saja dalam kondisi cuaca seperti ini?
Ma, apa Ayah marah pada ku? Karena aku tak pernah ada di rumah?
Aku rindu Ayah.
Ma, sampaikan rasa sayangku padanya dalam sujud dan dudukmu tengah malam.
Aku rindu kita, yang saat ini hanya berupa entah.
-Kaka
Comments
Post a Comment