Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga orang yang dicintai keparat.
Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.
Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.
Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.
Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. Sebelum kami bertemu, saya sempat mendapat kabar desas-desua, bahwa ia kuliah di luar kota. Kemudian saya percaya setelah mendengar ia bercerita. Ia pulang ke Jakarta, sebab kuliahnya sedang diliburkan karena hari raya. Setelah pertemuan pertama itu, saya sudah menduga akan muncul pertemuan-pertemuan selanjutnya. Kami jadi lebih sering menghabiskan waktu berdua, bercerita, hingga saya sendiri tidak menyangka bahwa laki-laki ini adalah laki-laki yang pernah saya kagumi sosoknya, hingga sekarang.
Kedekatan kami sudah mencapai tahap berbalas pesan dengan 'aku-kamu' dari sebelumnya dengan 'gua-elo'. Jujur, keadaan yang membuat bimbang saya. Hingga akhirnya saya luapkan pada tulisan ini. Singkatnya, waktu berlalu begitu cepat, liburannya berakhir, ia berpamitan untuk pulang dan melanjutkan kuliahnya. Tapi kami masih rajin bertukar kabar, lebih intens, kadarnya lebih tinggi. Ia pun sering mengakui bahwa dirinya merindukan saya. Setiap kali membaca pesan singkat yang tertera, mengenai perasaan rindunya pada saya, hati saya mencelos. Sebab, saya pun rindu, hanya entah bagaimana cara membalasnya. Dan saya yakin, dengan membalas mengakui bahwa saya rindu pun, tidak akan membuat rasa rindu ini hilang. Yang ada, hanya akan menjadi beban untuknya, karena saya paham pasti ia pun bingung bagaimana cara membalasnya.
Hal lain yang saya rasakan adalah, rasa pilu saat kata 'sayang' tertera pada pesan darinya. Saat itu juga saya mengutuk waktu, mengapa baru sekarang kami dipertemukan? Mengapa setelah saya kehilangan gairah untuk menyayangi orang lain? Mengapa debar itu tidak ada? Saya begitu takut menyakitinya, saya begitu takut mengecewakannya, karena perbedaan kami yang tidak bisa begitu saja dikesampingkan karena alasan sayang.
Selain waktu, saya juga mengutuk orang-orang di masalalu saya, sebab mereka adalah penyebab saya terjerembab pada masa sekarang. Masa di mana saya merasa entah perihal cinta. Masa di mana keyakinan telah berubah menjadi keraguan. Begitu pun perasaan sayang, yang sekarang hanya terasa bagai mimpi saat tidur siang.
Saya masih ingin merasakan cinta, saya menyesal terlalu cepat sadar, bahwa cinta bukanlah satu-satunya hal yang pantas saya pikirkan terlalu berlebihan.
hampir sama dengan yang sedang saya alami :)
ReplyDelete