Skip to main content

Sebab, Saya Terjerembab...




Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat. 

Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani. 

Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu. 

Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan. 

Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. Sebelum kami bertemu, saya sempat mendapat kabar desas-desua, bahwa ia kuliah di luar kota. Kemudian saya percaya setelah mendengar ia bercerita. Ia pulang ke Jakarta, sebab kuliahnya sedang diliburkan karena hari raya. Setelah pertemuan pertama itu, saya sudah menduga akan muncul pertemuan-pertemuan selanjutnya. Kami jadi lebih sering menghabiskan waktu berdua, bercerita, hingga saya sendiri tidak menyangka bahwa laki-laki ini adalah laki-laki yang pernah saya kagumi sosoknya, hingga sekarang. 


Kedekatan kami sudah mencapai tahap berbalas pesan dengan 'aku-kamu' dari sebelumnya dengan 'gua-elo'. Jujur, keadaan yang membuat bimbang saya. Hingga akhirnya saya luapkan pada tulisan ini. Singkatnya, waktu berlalu begitu cepat, liburannya berakhir, ia berpamitan untuk pulang dan melanjutkan kuliahnya. Tapi kami masih rajin bertukar kabar, lebih intens, kadarnya lebih tinggi. Ia pun sering mengakui bahwa dirinya merindukan saya. Setiap kali membaca pesan singkat yang tertera, mengenai perasaan rindunya pada saya, hati saya mencelos. Sebab, saya pun rindu, hanya entah bagaimana cara membalasnya. Dan saya yakin, dengan membalas mengakui bahwa saya rindu pun, tidak akan membuat rasa rindu ini hilang. Yang ada, hanya akan menjadi beban untuknya, karena saya paham pasti ia pun bingung bagaimana cara membalasnya. 


Hal lain yang saya rasakan adalah, rasa pilu saat kata 'sayang' tertera pada pesan darinya. Saat itu juga saya mengutuk waktu, mengapa baru sekarang kami dipertemukan? Mengapa setelah saya kehilangan gairah untuk menyayangi orang lain? Mengapa debar itu tidak ada? Saya begitu takut menyakitinya, saya begitu takut mengecewakannya, karena perbedaan kami yang tidak bisa begitu saja dikesampingkan karena alasan sayang. 


Selain waktu, saya juga mengutuk orang-orang di masalalu saya, sebab mereka adalah penyebab saya terjerembab pada masa sekarang. Masa di mana saya merasa entah perihal cinta. Masa di mana keyakinan telah berubah menjadi keraguan. Begitu pun perasaan sayang, yang sekarang hanya terasa bagai mimpi saat tidur siang. 


Saya masih ingin merasakan cinta, saya menyesal terlalu cepat sadar, bahwa cinta bukanlah satu-satunya hal yang pantas saya pikirkan terlalu berlebihan.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...