Skip to main content

Kita yang Masih Ada

28 Januari 1995

Lahir seorang anak perempuan, anak itu kini tumbuh besar dengan beribu pengalaman yang menyakitkan, pengalaman-pengalaman itulah yang mampu membuatnya kuat. 


Bor! 

Bagaimana rasanya menjadi dewasa? Beberapa hari lalu, usiamu tepat 21 tahun, hahaha, aku tak pernah menyangka menjadi saksi atas pertambahan usiamu itu. 

Hm, aku tahu mungkin kamu kecewa, aku belum mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, baiklah, aku ucapkan di tulisan ini, Selamat Ulang Tahun, Bor! 

Untukmu juga, yang sekarang hanya mempunyai waktu sedikit untuk pertemuan kita. Bagaimana kabarmu? Ku yakin baik, ada seseorang di sana yang menjagamu. Aku sengaja menulis surat ini, dalam rangka 30 Hari Menulis Surat Cinta, ku tuliskan dengan segala rasa terima kasih dan syukurku, karena aku memilikimu. 

Bagiku, cinta yang sebenarnya adalah kita, yang sampai saat ini masih ada. 

Kau tak perlu khawatir takut terlupakan, tak perlu. Tahukah betapa istimewanya kamu dan Grafting? Tak akan ada siapapun yang bisa menggantikan keistimewaannya. 

Bicara soal Grafting, aku rindu. Shinta sepertinya sedang sibuk dengan dunianya, ya, kita memang tidak pernah mempermasalahkan dunia kita masing-masing, kan? 

Aku tak sabar, aku tak sabar untuk tersenyum bangga melihatmu lulus kuliah, aku tak sabar menanti hari di mana kebahagiaanmu terpendar bak lampu taman yang bersinar saat temaram. 

Aku selalu menjaga janji kita, untuk terus bersama. Aku selalu berdoa agar kita bahagia. 

Terima kasih, telah menjadi wadah keluh kesahku. Meski jauh, tapi jarak hanya untaian angka yang tak berarti apa-apa.

untukmu, Lisa. 

Selamat Ulang Tahun, ya. 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...