Skip to main content

Perempuan Penyendiri


               

(Source: favim.com)


               Aku melirik jam yang tertera jelas di layar laptopku, kira-kira sudah tiga jam, aku duduk di kafe ini, menunggu hujan reda. Tepat di depan meja tempatku duduk, aku melihat sosok perempuan yang sama dengan perempuan yang ku lihat sepekan lalu, ia mengenakan pashmina berwarna hitam, wajahnya tak bergerak sedikitpun dari depan kaca jendela besar di sisi kirinya. Aku tak bisa melihat jelas wajahnya, hanya hidung mancung dan bibir tipis yang diulas gincu warna buah cherry, yang berhasil tertangkap pengelihatanku. Ku yakin perempuan ini cantik. Namun aku sangat menyayangkan waktunya yang terbuang sia-sia, karena Ia habiskan dengan duduk diam di sana bersama lamunannya.

Ah, bodoh. Aku malah memperhatikan orang lain sedangkan pekerjaanku terbengkalai karena tak ku sentuh. Tapi, perempuan itu sangat mencuri perhatianku, aku sibuk, aku berusaha membaca pikirannya, aku berusaha menjadi sorot matanya, aku menerka-nerka apa yang sedang menjadi lamunannya.

Apa Ia sedang menunggu? Menunggu seseorang datang, dengan pakaian basah kuyup karena menembus hujan? Dan membawakannya setangkai bunga mawar untuk menebus kesalahan?

Ah, tidak. Mungkin perempuan itu sedang memikirkan pekerjaannya yang tak kunjung selesai, karena ia tak tertarik pada pekerjaannya, dan melamun menjadi pilihan terakhirnya untuk menghabiskan waktu. Bisa saja, bukan? Tapi apa mungkin? Pekan lalu, di waktu yang sama, ia juga melakukan hal yang sama. Apa pekerjaannya seburuk itu hingga ia benar-benar muak?

               Perempuan itu menggerakkan tangannya, ia menyentuh cangkir di atas mejanya, mengaduknya, dan kemudian meneguknya. Biar kutebak, itu pasti hot chocolate. Aku yakin, karena setelah menyesap cangkirnya, ia menggerakan bibir, bibirnya membentuk sebuah lengkungan, tersenyum! Menandakan rasa minuman itu manis. Aku percaya, cokelat tidak pernah mengecewakan.

Tapi…… senyum itu hanya bertahan sebentar, hanya dalam hitungan detik. Kemudian wajahnya kembali menatap keluar. Aku membenarkan letak kacamataku, aku memperhatikan perempuan itu, dan barangkali wajahnya terpantul oleh kaca jendela. Benar! Wajahnya tergambar di kaca, aku berusaha fokus pada matanya, ah, sial. Pandanganku tak sanggup meraih matanya. Ia masih dengan posisinya, hingga ia bosan dan akhirnya ia merogoh tasnya, seperti sedang mencari sesuatu. Ia mengeluarkan sehelai tissue, dan menyeka kelopak matanya. Astaga, ia menangis!

Perempuan itu kenapa?  Penasaranku membuncah, aku tak tega sekaligus gemas dengan perempuan itu. Apa sih yang sedang ia pikirkan?

Aku membuang rasa malu, dan kemudian aku bangkit dari kursiku. Ya, aku menghampiri perempuan itu.

“Boleh aku duduk di sini?”
Ia tak menjawab, ia hanya mengangguk ragu.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Apa pedulimu?” Akhirnya ia menatap mataku.

“Aku tak peduli, aku hanya penasaran, dan sejak tadi aku memperhatikanmu.” Ujarku.

“Sudah kuduga, kau hanya peduli dengan rasa penasaranmu, bukan dengan apa yang menyebabkan aku menyendiri seperti ini.”

“Maksudmu?” Aku mulai tak mengerti arah pembicaraan perempuan itu.

“Semua orang di dunia ini sama saja. Mereka hanya peduli pada kepentingan mereka sendiri, kau menghampiriku, bukan karena simpati kepadaku, tapi hanya karena rasa penasaranmu. Dan setelah aku jelaskan alasan mengapa aku di sini, kau akan pergi. Karena, rasa penasaranmu telah terpenuhi. Begitu bukan?”

Aku diam, kata –kata perempuan itu langsung menombak dadaku. Aku malu.

“Pergilah.” Katanya.

“Maafkan aku…. Aku tak bermaksud begitu, barangkali ada hal yang bisa kubantu? Mungkin kita tidak saling mengenal, tapi paling tidak, kita sama-sama perempuan.”
Aku berusaha melunakkannya.

“Aku hanya…… sedang bercerita pada hujan. Tentang seseorang yang selama ini mencintaiku, dan kemudian pergi begitu saja. Ia pergi karena lelah menghadapi sikapku, aku sedang dirunut penyesalan yang amat sangat, aku sedang dihukum kesepian. ”


Hujan seperti mendengar ucapan perempuan itu, suara petir menggelegar di telingaku, dan aku baru menyadari satu hal, aku pernah menjadi perempuan itu, setahun yang lalu. 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...