Hei, orang-orang idiot!
Bagaimana pekerjaan kalian? Berantakan? Ya pastilah.
Kapan kalian berhenti mengajakku begadang? Tak tahu? Dasar idiot.
Jangan marah aku panggil idiot. Apa namanya kalau bukan orang idiot? Orang-orang yang sok kuat dengan angin malam, sepulang kerja bukannya pulang istirahat, malah sibuk mencari makan berkeliling kota. Kurang idiot apa?
Ya, maaf-maaf. Bukan kalian saja, aku masuk ke dalamnya.
Ya Tuhan, tak sanggup aku membayangkan kita yang tak akan lagi bersama.
Ketololan-ketololan yang kita pupuk tiap malam, kini tumbuh menjadi kisah yang layak dibagi pada siapapun yang membaca surat ini.
Mereka adalah keluargaku yang lain, yang mengajarkanku untuk menjadi atlet begadang, bagaimana tidak? keluyuran tengah malam, pulang waktu subuh.
Heh kalian! Aku ini perempuan!
mereka akan bilang.
"Gak peduli."
Terserahlah, peduli atau tidak. Harus ku akui dalam surat ini bahwa aku menyayangi mereka.
Berjanjilah kepadaku, kalian itu laki-laki, jangan pernah menyakiti perempuan. Awas kalau sampai!
Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, kalian akan menjadi suami kelak. Jagalah perempuan-perempuan yang mencintai kalian. Seperti kalian menjagaku.
Kalian adalah Kakak, bagiku. Tak peduli kalian menganggapku apa.
Comments
Post a Comment