Skip to main content

Kau Adalah......



....rumah atas segala kekhawatiranku. 


Tuan, bagaimana rasanya menjadi kekasih seorang perempuan rewel, super cengeng sepertiku? 

Adakah rasa ingin menyerah di dalam hatimu? 

Maafkan aku, Tuan. Sebab, selalu membuatmu merasa bahwa cintamu tak pernah cukup. 

Asal kau tahu, cintamu selalu cukup. Hanya saja, komposisi dalam setiap hubungan bukan cinta saja, hal itu membutuhkan beberapa persen kepercayaan, komitmen, keterbukaan, dan masih banyak yang lainnya. 

Aku sama sekali tak pernah meragukan cintamu, tak pernah. Sebab, aku yang memilihmu, sebab, aku juga mencintaimu. 

Tapi kasusnya adalah, aku yang ragu dengan cintaku. Aku ragu apa cintaku sudah benar padamu? 

Hari-hariku habis untuk mengais, Tuan. Mengais kepercayaan yang aku kumpulkan dari serpihan-serpihan kabar yang kau tinggalkan. 

Bisakah aku menjaga kita? Sedangkan aku, tak pernah merasa hadirku ada. 

Bagaimana caranya, Tuan? 

Aku terlampau jauh mencintamui, aku terlampau jauh menginginkanmu, bahkan seluruh sudut duniamu. Salahkah aku? 

Kegelisahan bukan lagi hadir sesekali, tapi hampir setiap hari. Kekhawatiran bukan lagi hadir kadang-kadang, tapi tiap waktu ia meradang. Kegelisahan dan kekhawatiran itu menodong habis pondasi hubungan kita yang sudah susah payah aku bangun. Tidakkah, kau sadar? 

Pada bilik lain hidupku, kamu adalah candu. Kamu adalah hal yang bisa menghadirkan aku sebagai aku. 

Sayang...
Jangan pernah berjanji mencintaiku sampai mati, tapi berusahalah untuk tetap mencintaiku setiap hari. 

Tertanda, 
 

Aku, si penunggu kabar yang baik.

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...