....rumah atas segala kekhawatiranku.
Tuan, bagaimana rasanya menjadi kekasih seorang perempuan rewel, super cengeng sepertiku?
Adakah rasa ingin menyerah di dalam hatimu?
Maafkan aku, Tuan. Sebab, selalu membuatmu merasa bahwa cintamu tak pernah cukup.
Asal kau tahu, cintamu selalu cukup. Hanya saja, komposisi dalam setiap hubungan bukan cinta saja, hal itu membutuhkan beberapa persen kepercayaan, komitmen, keterbukaan, dan masih banyak yang lainnya.
Aku sama sekali tak pernah meragukan cintamu, tak pernah. Sebab, aku yang memilihmu, sebab, aku juga mencintaimu.
Tapi kasusnya adalah, aku yang ragu dengan cintaku. Aku ragu apa cintaku sudah benar padamu?
Hari-hariku habis untuk mengais, Tuan. Mengais kepercayaan yang aku kumpulkan dari serpihan-serpihan kabar yang kau tinggalkan.
Bisakah aku menjaga kita? Sedangkan aku, tak pernah merasa hadirku ada.
Bagaimana caranya, Tuan?
Aku terlampau jauh mencintamui, aku terlampau jauh menginginkanmu, bahkan seluruh sudut duniamu. Salahkah aku?
Kegelisahan bukan lagi hadir sesekali, tapi hampir setiap hari. Kekhawatiran bukan lagi hadir kadang-kadang, tapi tiap waktu ia meradang. Kegelisahan dan kekhawatiran itu menodong habis pondasi hubungan kita yang sudah susah payah aku bangun. Tidakkah, kau sadar?
Pada bilik lain hidupku, kamu adalah candu. Kamu adalah hal yang bisa menghadirkan aku sebagai aku.
Sayang...
Jangan pernah berjanji mencintaiku sampai mati, tapi berusahalah untuk tetap mencintaiku setiap hari.
Tertanda,
Aku, si penunggu kabar yang baik.
Comments
Post a Comment