Skip to main content

Sedikit Tentang Rinduku.





Rasanya lelah, aku menghitung hari sejak kepergianmu. Entah sudah berapa puluh bait kata yang kutuliskan untuk memuisikanmu. Entah sudah berapa ratus lagu aku putar untuk mengenangmu. Semua itu berlalu begitu cepat, jarum jam memang tak pernah rela berhenti. Seperti baru kemarin, kita duduk saling bertatapan di tempat aku duduk sekarang. Rasanya baru kemarin, kita bertukar cerita kemudian tertawa bersama.

Bolehkah aku mengatakan rindu, sekali lagi? Mengingat sudah tak ada yang bisa aku lakukan untuk mengenyahkan perasaan ini. Hm, kudengar, kabarmu baik-baik saja? Syukurlah, aku ikut senang, meski bukan aku di sisimu sekarang. Sampai detik ini, aku masih berusaha mengikhlaskan segala tentang kita yang kandas, dan sampai detik ini juga, aku masih berusaha menyapu bersih janji-janjimu.

Kita memang berpisah, tapi bukan berarti perasaanku menyetujuinya. Masih ada hal-hal tentangmu yang terselip, dan sesekali kutuliskan sebagai puisi rindu, ya, memang selalu tentang rindu. Aku hanya memiliki rindu, untukmu.


Kini, ku hanya ditemani secangkir kopi, ya hanya secangkir, karena secangkirnya lagi telah kamu bawa pergi, bersama segala rahasiaku, dan kekecewaanmu. Bahagialah kamu, dengan perempuan yang menurutmu, dan menurut Tuhan, pantas bahagia. Aku hanya selembar kisah, yang sempat kau tuliskan. Dan kamu adalah sebuah buku, yang berhasil aku ciptakan. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...