Rasanya lelah, aku menghitung
hari sejak kepergianmu. Entah sudah berapa puluh bait kata yang kutuliskan
untuk memuisikanmu. Entah sudah berapa ratus lagu aku putar untuk mengenangmu. Semua
itu berlalu begitu cepat, jarum jam memang tak pernah rela berhenti. Seperti baru
kemarin, kita duduk saling bertatapan di tempat aku duduk sekarang. Rasanya baru
kemarin, kita bertukar cerita kemudian tertawa bersama.
Bolehkah aku mengatakan rindu,
sekali lagi? Mengingat sudah tak ada yang bisa aku lakukan untuk mengenyahkan perasaan
ini. Hm, kudengar, kabarmu baik-baik saja? Syukurlah, aku ikut senang, meski
bukan aku di sisimu sekarang. Sampai detik ini, aku masih berusaha
mengikhlaskan segala tentang kita yang kandas, dan sampai detik ini juga, aku
masih berusaha menyapu bersih janji-janjimu.
Kita memang berpisah, tapi bukan
berarti perasaanku menyetujuinya. Masih ada hal-hal tentangmu yang terselip,
dan sesekali kutuliskan sebagai puisi rindu, ya, memang selalu tentang rindu. Aku
hanya memiliki rindu, untukmu.
Kini, ku hanya ditemani secangkir
kopi, ya hanya secangkir, karena secangkirnya lagi telah kamu bawa pergi,
bersama segala rahasiaku, dan kekecewaanmu. Bahagialah kamu, dengan perempuan
yang menurutmu, dan menurut Tuhan, pantas bahagia. Aku hanya selembar kisah,
yang sempat kau tuliskan. Dan kamu adalah sebuah buku, yang berhasil aku ciptakan.
oooooh so sweet...
ReplyDelete