Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2015

Kenangan itu Selalu Memuakkan

                                      Jadi begini rasanya kehilangan? tiap tapak yang ku lewati, mempunyai memorinya sendiri. Waktu memang selalu penuh kejutan bukan? Siapa sangka pertemuan manis kita hanya sesingkat durasi lagu yang hanya sekali putar, tak ada yang ingin mendengarnya berulang-ulang, bahkan kamupun enggan.  Aku sengaja menyisihkan waktuku, untuk menapaki memori-memori itu, pada setiap jalan, tempat, yang pernah kita singgahi. Tunggu, kita? maksudku, aku dan kamu. Rumit ya, yang tadinya aku dengan mudah mengatakan 'kita' sekarang harus diganti dengan aku dan kamu, karena 'kita' sudah bukan milik aku dan kamu lagi.  Aku bukannya ingin menyesalkan kepergianmu, aku hanya ingin melebur bersama kenangan-kenangan kita dulu. Aku pernah bilang bahwa aku tidak takut kehilangan, tapi bukan berarti aku menyukainya. Aku benci, dan aku masih menngalaminya sekarang. ...

When Memories Hit, It Hurts

                Atas nama yang maha Esa, akhirnya aku beranikan diri untuk menulis deretan kata ini. Terserah, kamu akan sudi membacanya atau tidak,aku menulis ini karena tak kuasa menahan perasaan yang berkecamuk siang dan malam sendirian. Entahlah, aku sendiri bingung menyebut perasaan ini apa, yang kurasakan jelas hanya sakit, seperti ditombak bambu runcing yang bermata pisau tajam, bodohnya aku hanya diam melihat lukaku sendiri, tak kuasa aku berbuat banyak. Bodoh? Memang.               Pertemuan singkat kita, ah, sebentar, singkat ku bilang? Tidak, tidak, ini bukan pertemuan yang singkat, ini pertemuan panjang, dalam waktu yang singkat, begitu mungkin? Mungkin sebelumnya aku tak setuju jika kamu membenci waktu, tapi sekarang, aku merasakanmu, akupun membenci waktu, sangat membencinya. Hal yang selalu kupertanyakan adalah ‘mengapa ada satuan yang disebut detik?’ penghitung ukuran waktu yang teru...

Ada Yang Sedang Kehilangan

                               Aku melihat ada perempuan yang sedang berdiri di ujung jalan sembari meratapi langit sore yang berhujan. Tak tega melihatnya sendirian, aku menghampiri, dan menemaninya. Hatiku penuh gemuruh rasa penasaran. Kemudian, kami berdua duduk di kursi taman, dan Ia bercerita tentang luka. Aku menatap matanya, dan sesekali fokus pada garis-garis wajahnya, kemudian Ia mengatakan jika Ia sedang kehilangan. Aku mendengarkan suaranya yang sedu, merasakan napasnya tak beraturan dan melihat matanya berkaca-kaca. Ia bercerita tentang bagaimana rasanya kehilangan, kehilangan atas kesalahan yang ia perbuat sendiri, dan menyesalkan hal itu. Ku beri tahu dia, bahwa penyesalan tidak akan membuat waktu berputar, ku beri tahu juga bahwa setiap manusia melakukan kesalahan, dan mungkin kehilangan adalah hukuman untuknya, Ia hanya perlu bersabar atas hukum...

Jatuh Dan Patah

*Tulisan ini untuk membalas tulisan salah satu sahabat ku, Ayu Diah di blognya. http://ayudiahnurazizah.tumblr.com/post/115275316192 Hai, Ayu. dari tulisanmu yang berjudul 'Jatuh' sepertinya kamu begitu fasih merasakan jatuh cinta berkali-kali pada tempat yang sama.  Baiklah, aku memang tidak pernah merasakan hal yang kamu rasakan, aku belum pernah jatuh cinta sesering kamu merasakannya, apalagi pada tempat yang sama. Tapi, Yu, percayalah bahwa jatuh cinta memang tidak pernah salah, ketahuilah, yang salah bukan jatuh cintanya, tapi pada siapa kamu jatuh cinta, dan kapan kamu jatuh cinta. Well, you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time. Kamu hanya belum benar-benar menemukan 'dia' yang tepat, dia yang tidak hanya mampu membuatmu jatuh, tapi mampu membuatmu bangkit juga.  Entahlah, aku sendiri sampai sekarang masih bingung, setiap orang yang jatuh dan patah, selalu saja menyalahkan cinta, cinta, dan cinta. Logikanya,...