Skip to main content

Ada Yang Sedang Kehilangan


            



                 Aku melihat ada perempuan yang sedang berdiri di ujung jalan sembari meratapi langit sore yang berhujan.

Tak tega melihatnya sendirian, aku menghampiri, dan menemaninya. Hatiku penuh gemuruh rasa penasaran. Kemudian, kami berdua duduk di kursi taman, dan Ia bercerita tentang luka.

Aku menatap matanya, dan sesekali fokus pada garis-garis wajahnya, kemudian Ia mengatakan jika Ia sedang kehilangan. Aku mendengarkan suaranya yang sedu, merasakan napasnya tak beraturan dan melihat matanya berkaca-kaca.
Ia bercerita tentang bagaimana rasanya kehilangan, kehilangan atas kesalahan yang ia perbuat sendiri, dan menyesalkan hal itu. Ku beri tahu dia, bahwa penyesalan tidak akan membuat waktu berputar, ku beri tahu juga bahwa setiap manusia melakukan kesalahan, dan mungkin kehilangan adalah hukuman untuknya, Ia hanya perlu bersabar atas hukuman yang sedang Ia rasakan sekarang.

“Aku telah meminta maaf kepadanya.” Kata perempuan itu.

Ku bilang, “Sayang, baginya kata maaf saja tak lantas membuat hatinya pulih. Ia membutuhkan waktu untuk menyembuhkannya, biarkan ia sendiri, beri ia waktu.”
Lalu perempuan itu terdiam.

“Yang pernah atau sedang kehilangan, bukan kamu saja.” Kataku.

“Aku pernah, bahkan sering, merasa kehilangan. Bahkan, aku pernah mengutuk Tuhan, karena telah mengambil orang-orang yang aku sayang, aku terus menyalahkan diriku sendiri, kemudian murka pada Tuhan, namun, hal itu tidak bertahan lama, karena selalu ada seseorang yang menyadarkanku, bahwa setiap kehilangan, pasti ada hal baru yang ingin Tuhan berikan, begitu seterusnya. Kau tahu? Akan selalu ada badai, sebelum mentari bersinar, akan selalu ada gelap setelah terang, bumi ini terus berputar pada rotasinya, lalu, kamu masih berdiri di sini meratapi hal yang mungkin tak bisa kamu miliki lagi?”

Perempuan itu menggeleng, dan mengangkat wajahnya menatapku.

“Kau benar, tapi aku menyayanginya, aku menyesal, aku membenci diriku sendiri, aku merasa tak pantas lagi hidup, jika aku hanya bisa menyakiti, menyakiti dan terus menyakiti.”

Tangis perempuan itu pecah, menggantikan sunyi.

“Ya, aku tahu kau menyayanginya, jika tidak, kau tak akan sepedih ini. Semua orang, datang dan pergi, semua orang berhak menentukan pilihannya sendiri, dan kau, harus selalu belajar bahwa tidak semua orang yang kau pilih, akan memilihmu. Kau takkan mampu menahan mereka yang memilih meninggalkanmu, yang harus kau lakukan adalah menguatkan hatimu untuk menerimanya. Percayalah, akan selalu ada sinar baru, pada setiap hal yang redup, dan hatimu yang besar adalah sumber cahayanya.” Ujarku.

Kemudian perempuan itu memelukku erat, dan kemudian menghilang ditelan malam.


Aku, kehilangan, lagi. 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...