Aku melihat ada perempuan yang sedang berdiri di ujung jalan sembari meratapi langit sore yang berhujan.
Tak tega melihatnya sendirian, aku menghampiri, dan
menemaninya. Hatiku penuh gemuruh rasa penasaran. Kemudian, kami berdua duduk
di kursi taman, dan Ia bercerita tentang luka.
Aku menatap matanya, dan sesekali fokus pada garis-garis
wajahnya, kemudian Ia mengatakan jika Ia sedang kehilangan. Aku mendengarkan suaranya yang sedu, merasakan
napasnya tak beraturan dan melihat matanya berkaca-kaca.
Ia bercerita tentang bagaimana rasanya kehilangan, kehilangan
atas kesalahan yang ia perbuat sendiri, dan menyesalkan hal itu. Ku beri tahu
dia, bahwa penyesalan tidak akan membuat waktu berputar, ku beri tahu juga
bahwa setiap manusia melakukan kesalahan, dan mungkin kehilangan adalah hukuman
untuknya, Ia hanya perlu bersabar atas hukuman yang sedang Ia rasakan sekarang.
“Aku telah meminta maaf kepadanya.” Kata perempuan itu.
Ku bilang, “Sayang, baginya kata maaf saja tak lantas
membuat hatinya pulih. Ia membutuhkan waktu untuk menyembuhkannya, biarkan ia
sendiri, beri ia waktu.”
Lalu perempuan itu terdiam.
“Yang pernah atau sedang kehilangan, bukan kamu saja.” Kataku.
“Aku pernah, bahkan sering, merasa kehilangan. Bahkan, aku
pernah mengutuk Tuhan, karena telah mengambil orang-orang yang aku sayang, aku
terus menyalahkan diriku sendiri, kemudian murka pada Tuhan, namun, hal itu
tidak bertahan lama, karena selalu ada seseorang yang menyadarkanku, bahwa setiap
kehilangan, pasti ada hal baru yang ingin Tuhan berikan, begitu seterusnya. Kau
tahu? Akan selalu ada badai, sebelum mentari bersinar, akan selalu ada gelap
setelah terang, bumi ini terus berputar pada rotasinya, lalu, kamu masih
berdiri di sini meratapi hal yang mungkin tak bisa kamu miliki lagi?”
Perempuan itu menggeleng, dan mengangkat wajahnya menatapku.
“Kau benar, tapi aku menyayanginya, aku menyesal, aku
membenci diriku sendiri, aku merasa tak pantas lagi hidup, jika aku hanya bisa
menyakiti, menyakiti dan terus menyakiti.”
Tangis perempuan itu pecah, menggantikan sunyi.
“Ya, aku tahu kau menyayanginya, jika tidak, kau tak akan
sepedih ini. Semua orang, datang dan pergi, semua orang berhak menentukan pilihannya
sendiri, dan kau, harus selalu belajar bahwa tidak semua orang yang kau pilih,
akan memilihmu. Kau takkan mampu menahan mereka yang memilih meninggalkanmu,
yang harus kau lakukan adalah menguatkan hatimu untuk menerimanya. Percayalah,
akan selalu ada sinar baru, pada setiap hal yang redup, dan hatimu yang besar
adalah sumber cahayanya.” Ujarku.
Kemudian perempuan itu memelukku erat, dan kemudian
menghilang ditelan malam.
Aku, kehilangan, lagi.

Comments
Post a Comment