Skip to main content

When Memories Hit, It Hurts




                Atas nama yang maha Esa, akhirnya aku beranikan diri untuk menulis deretan kata ini. Terserah, kamu akan sudi membacanya atau tidak,aku menulis ini karena tak kuasa menahan perasaan yang berkecamuk siang dan malam sendirian. Entahlah, aku sendiri bingung menyebut perasaan ini apa, yang kurasakan jelas hanya sakit, seperti ditombak bambu runcing yang bermata pisau tajam, bodohnya aku hanya diam melihat lukaku sendiri, tak kuasa aku berbuat banyak. Bodoh? Memang.

              Pertemuan singkat kita, ah, sebentar, singkat ku bilang? Tidak, tidak, ini bukan pertemuan yang singkat, ini pertemuan panjang, dalam waktu yang singkat, begitu mungkin? Mungkin sebelumnya aku tak setuju jika kamu membenci waktu, tapi sekarang, aku merasakanmu, akupun membenci waktu, sangat membencinya. Hal yang selalu kupertanyakan adalah ‘mengapa ada satuan yang disebut detik?’ penghitung ukuran waktu yang terus melaju tak berhenti dan tak berulang, kejam bukan? Semua orang berandai-andai ingin mempunyai mesin waktu, bisakah sekali saja kita mengabaikan waktu? Menganggap waktu itu tak ada? Mengapa hal itu selalu menjadi ketidakmungkinan? Mengapa waktu tak pernah memberi toleransi pada orang-orang yang ingin memperbaiki keadaan? Mengapa?

Baiklah, berhenti soal waktu, aku bisa gila jika terus-terusan menuntut waktu kembali, sedangkan hal itu takkan pernah terjadi.

Sayang…… aku muak dengan semua tentang kita, yang tak henti-hentinya menghantui, ku akui aku memang pelupa kelas kakap, tapi bagaimana aku bisa menjelaskan tentang ingatan-ingatan yang terus bergulir ini? Sangat jelas terlihat bak pemutaran film, detil-detil langkahmu, tawamu, marahmu, bahkan napasmu. Tiap kali ingatan itu hadir, rasanya kepalaku siap membentur dinding, sama-sama sakit, tapi mungkin lebih baik, karena aku bisa melihat luka atas kesalahanku sendiri.

                Aku tak ingin mengingatmu sebagai luka, sama sekali tidak, tapi kenyataannya ingatan itu hadir dan menyakitkan, sesekali mungkin membuatku tersenyum, mengingat hal-hal kecil, yang kita lakukan berdua, atau mengingat kata-katamu seperti “aku pengin buru-buru nikahin kamu deh.” Dengan raut wajah seriusmu, atau mengingat caramu menuntunku menyebrang jalan, atau caramu terjaga dari tidurmu. Ah, terlalu banyak, aku bahkan sanggup menceritakan detik demi detik yang pernah kita lalui bersama, tak apa, meski artinya sama saja aku membiarkan diriku ditombak habis.

               Sama sepertimu, aku juga ingin belajar mematahkan hati sendiri, itulah sebabnya aku tanpa bosan mengorek tentang kita, aku membiarkan diri ini dicambuk kenangan, disayat kegelisahan rindu, dan diinjak-injak bencimu. Ya, benci bukan? Itu yang sedang kamu alami sekarang, membenciku. Kamu membenciku dengan segala kenangan yang ada, aku tak menyangka kamu sanggup melakukannya.

Sayang…
Maaf, maafkan aku yang sampai saat ini tak mampu membuangmu jauh, maafkan aku tak lantas menerima kepergianmu, maafkan aku menyakitimu.
Pergimu, tak berarti aku berhenti mendoakanmu, tenang saja, dalam setiap sujudku, namamu lah yang ada, dalam tiap mimpiku, kamulah yang hadir, begitu malamku akhir-akhir ini.

Selamat berjalan memunggungiku, sayang…

Selamat melupakan kita…

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...