Jadi begini rasanya kehilangan? tiap tapak yang ku lewati, mempunyai memorinya sendiri. Waktu memang selalu penuh kejutan bukan? Siapa sangka pertemuan manis kita hanya sesingkat durasi lagu yang hanya sekali putar, tak ada yang ingin mendengarnya berulang-ulang, bahkan kamupun enggan.
Aku sengaja menyisihkan waktuku, untuk menapaki memori-memori itu, pada setiap jalan, tempat, yang pernah kita singgahi. Tunggu, kita? maksudku, aku dan kamu. Rumit ya, yang tadinya aku dengan mudah mengatakan 'kita' sekarang harus diganti dengan aku dan kamu, karena 'kita' sudah bukan milik aku dan kamu lagi.
Aku bukannya ingin menyesalkan kepergianmu, aku hanya ingin melebur bersama kenangan-kenangan kita dulu. Aku pernah bilang bahwa aku tidak takut kehilangan, tapi bukan berarti aku menyukainya. Aku benci, dan aku masih menngalaminya sekarang. Sesekali aku harus terluka, menyadari bahwa masih ada rindu yang terselip, sisa-sisa tawamu masih sering kudengar, hangat dekap pelukmu masih sering kurasa, aku lelah merindukanmu.
Segala cara telah aku lakukan, agar kenangan itu hilang, sesekali aku menikmati kenangan itu dengan secangkir kopi, dan selalu berharap ingatan itu hilang pada tegukan terakhir dan ikut dibuang dengan ampasnya. Tapi, caraku keliru, nyatanya kenangan itu ikut masuk ke dalam tubuhku dan menjalari segala sisinya.
Ya, aku tahu, setiap manusia mempunyai jatah untuh jatuh cinta berkali-kali. Mungkin seseorang akan menggantikanmu suatu hari nanti. Dan mungkin aku hanya akan menjadi embusan angin, saat kamu jatuh cinta lagi.
Terlalu naif bukan? Jika aku mengatakan aku tak ingin jatuh cinta lagi? Tapi memang itu yang aku alami, aku masih menikmati sisa-sisa hadirmu, aku belum mampu menggantikanmu dengan orang lain.
Bolehkah begini?
Comments
Post a Comment