Skip to main content

Kenangan itu Selalu Memuakkan

                      

               Jadi begini rasanya kehilangan? tiap tapak yang ku lewati, mempunyai memorinya sendiri. Waktu memang selalu penuh kejutan bukan? Siapa sangka pertemuan manis kita hanya sesingkat durasi lagu yang hanya sekali putar, tak ada yang ingin mendengarnya berulang-ulang, bahkan kamupun enggan. 

Aku sengaja menyisihkan waktuku, untuk menapaki memori-memori itu, pada setiap jalan, tempat, yang pernah kita singgahi. Tunggu, kita? maksudku, aku dan kamu. Rumit ya, yang tadinya aku dengan mudah mengatakan 'kita' sekarang harus diganti dengan aku dan kamu, karena 'kita' sudah bukan milik aku dan kamu lagi. 

Aku bukannya ingin menyesalkan kepergianmu, aku hanya ingin melebur bersama kenangan-kenangan kita dulu. Aku pernah bilang bahwa aku tidak takut kehilangan, tapi bukan berarti aku menyukainya. Aku benci, dan aku masih menngalaminya sekarang. Sesekali aku harus terluka, menyadari bahwa masih ada rindu yang terselip, sisa-sisa tawamu masih sering kudengar, hangat dekap pelukmu masih sering kurasa, aku lelah merindukanmu. 

Segala cara telah aku lakukan, agar kenangan itu hilang, sesekali aku menikmati kenangan itu dengan secangkir kopi, dan selalu berharap ingatan itu hilang pada tegukan terakhir dan ikut dibuang dengan ampasnya. Tapi, caraku keliru, nyatanya kenangan itu ikut masuk ke dalam tubuhku dan menjalari segala sisinya.

Ya, aku tahu, setiap manusia mempunyai jatah untuh jatuh cinta berkali-kali. Mungkin seseorang akan menggantikanmu suatu hari nanti. Dan mungkin aku hanya akan menjadi embusan angin, saat kamu jatuh cinta lagi. 

Terlalu naif bukan? Jika aku mengatakan aku tak ingin jatuh cinta lagi? Tapi memang itu yang aku alami, aku masih menikmati sisa-sisa hadirmu, aku belum mampu menggantikanmu dengan orang lain. 

Bolehkah begini? 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...