My dearest Reza… Biarlah tulisan ini menjadi puncak kesedihan yang aku pendam beberapa hari terakhir, kupikir mudah melewati hari dengan tidak tinggal dan hidup bersamamu. Seperti katamu, kita pernah melakukan ini sebelumnya. Sebelum akhirnya kita memilih satu atap untuk menuju tahap pengenalan selanjutnya. Entah sudah berapa jumlah sks yang kamu beri, pelajaran lainnya, bukan hanya tentang cinta saja. Aku belajar bertanggungjawab, belajar menunggu, belajar sabar, belajar komunikasi dengan baik tentunya. Lima bulan yang berhasil membuatku yakin bahwa kamu orang yang tepat untuk aku percaya. Orang yang aku percaya untuk menjadi tempat singgah dengan sungguh. Dan berhasil menjadi salah satu alasan bahwa aku harus tetap hidup untuk bisa bersamamu. Maaf aku terlalu cengeng, tapi kamu paham betul aku tidak cukup pandai menyembunyikan perasaanku. Sampai detik ini, aku masih berusaha menahan tangis perpisahan. Tidak, tidak, aku paham kita hanya kembali...
Bicara cinta, berarti bicara tentang manusia. Bicara manusia, artinya bicara kebebasan. Bicara kebebasan adalah bicara kesenangan. Apakah cinta itu sebuah kesenangan? Jika iya, mengapa harus berat? Bukankah semestinya kesenangan itu tidak memberatkan apapun? Benar, cinta itu menyenangkan. Tapi bagian yang memberatkan adalah, tanggungjawab. Menjadi manusia yang bertanggungjawab. Mencintai artinya bertanggungjawab. Atas apa? Atas perasaan diri sendiri, dan perasaan orang yang mencintaimu juga. Benar, kebahagiaan itu milikmu sendiri, kamu tidak dianjurkan untuk menggantungkan perasaanmu pada pasanganmu. Tapi menjaga perasaan pasanganmu, dan mempertanggungjawabkannya, adalah kewajiban, kewajiban sebagai pasangan yang baik. Pertanyaannya, mampukah kamu menjadi pasangan yang baik? Jika, jawabannya ragu, artinya kamu tidak cukup baik. Yakinkanlah dulu, yakinkan dirimu sendiri untuk menjadi pasangan yang baik. Jika kamu sudah yaki...