Skip to main content

Posts

Kuliah Lima Bulan

My dearest Reza…  Biarlah tulisan ini menjadi puncak kesedihan yang aku pendam beberapa hari terakhir, kupikir mudah melewati hari dengan tidak tinggal dan hidup bersamamu. Seperti katamu, kita pernah melakukan ini sebelumnya. Sebelum akhirnya kita memilih satu atap untuk menuju tahap pengenalan selanjutnya. Entah sudah berapa jumlah sks yang kamu beri, pelajaran lainnya, bukan hanya tentang cinta saja. Aku belajar bertanggungjawab, belajar menunggu, belajar sabar, belajar komunikasi dengan baik tentunya.   Lima bulan yang berhasil membuatku yakin bahwa kamu orang yang tepat untuk aku percaya. Orang yang aku percaya untuk menjadi tempat singgah dengan sungguh. Dan berhasil menjadi salah satu alasan bahwa aku harus tetap hidup untuk bisa bersamamu.  Maaf aku terlalu cengeng, tapi kamu paham betul aku tidak cukup pandai menyembunyikan perasaanku. Sampai detik ini, aku masih berusaha menahan tangis perpisahan. Tidak, tidak, aku paham kita hanya kembali...
Recent posts

Cinta Itu Berat

Bicara cinta, berarti bicara tentang manusia. Bicara manusia, artinya bicara kebebasan. Bicara kebebasan adalah bicara kesenangan. Apakah cinta itu sebuah kesenangan? Jika iya, mengapa harus berat? Bukankah semestinya kesenangan itu tidak memberatkan apapun?  Benar, cinta itu menyenangkan. Tapi bagian yang memberatkan adalah, tanggungjawab. Menjadi manusia yang bertanggungjawab.  Mencintai artinya bertanggungjawab. Atas apa? Atas perasaan diri sendiri, dan perasaan orang yang mencintaimu juga.  Benar, kebahagiaan itu milikmu sendiri, kamu tidak dianjurkan untuk menggantungkan perasaanmu pada pasanganmu. Tapi menjaga perasaan pasanganmu, dan mempertanggungjawabkannya, adalah kewajiban, kewajiban sebagai pasangan yang baik.  Pertanyaannya, mampukah kamu menjadi pasangan yang baik? Jika, jawabannya ragu, artinya kamu tidak cukup baik. Yakinkanlah dulu, yakinkan dirimu sendiri untuk menjadi pasangan yang baik.  Jika kamu sudah yaki...

Saya Rasa Cukup

Tulisan ini saya buat bukan bermaksud menyalahkan pihak manapun, tulisan ini murni saya tulis untuk mencurahkan segala isi kepala saya. Kita semua pasti punya batas pada hidup kita, batas-batas yang kita tentukan sendiri, tentu batasan-batasan itu dibuat agar kita tau sampai mana kita mampu. Begitu juga saya.  Setahun lalu saya memulai sebuah hubungan, tentu dengan orang yang saya cintai. Saya bahagia, berada sepersekian senti di dekatnya adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Saya sadar hal itu. Tapi di lain sisi, di waktu-waktu yang sedang berjalan, saya menemukan berbagai dinding penghalang, yang awalnya saya rasa, saya sanggup menerobos masuk, namun setelah saya coba berkali-kali membenturkan diri dan berusaha masuk, saya merasa saya tidak akan sanggup. Saya seperti merasa tenaga saya sudah terkuras habis, peluh saya sudah tidak sanggup menanggung bebannya. Ini yang saya sebut batasan, saya rasa ini batas saya.  Dinding itu adalah penger...

Saya Hanya Bercanda, Jika Kamu Tersinggung, Itu Bukan Urusan Saya

Seringkali saya berkata tanpa memikirkan apa yang saya katakan. Mengomentari hidup oranglain, memberi pendapat tanpa mau mendengarkan. Sekenanya saja mulut saya berucap, tanpa pernah memikirkan apakah kata-kata saya menyinggung orang lain atau tidak. Acap kali seseorang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, saat itu pula saya mengatakan bahwa kata-kata saya hanya candaan, dan meminta oranglain untuk tidak terbawa perasaan. Padahal, bukankah mereka berhak menunjukkan ketidaksepakatan dan rasa tersinggung dengan apa yang saya katakan? Jika mereka tersinggung, jelas-jelas itu adalah kesalahan saya, harusnya saya meminta maaf karena kata-kata saya yang menyinggung, tapi saya malah meminta mereka menekan harga diri mereka dengan kata-kata "gitu aja kok bawa perasaan, sih" atau "lebay banget, saya kan bercanda". Setelah mengatakan hal-hal demikian, biasanya orang-orang yang saya singgung dengan kata-kata saya, akan bertingkah baik-baik saja. Saya sendiri masih m...

the black sides

Minggu ini, aku harus pergi lagi ke psikiater. Sebab, beberapa hari terakhir, pikiranku sudah penuh dengan niat untuk mengakhiri hidup. Hal-hal yang sudah kulupakan sekuat tenaga, muncul begitu saja di kepala, bak pemutaran film, begitu jelas, begitu detil. Membuat aku takut untuk berkomunikasi dengan orang-orang sekitarku. Membuat aku takut terbangun untuk tidur, aku takut hal-hal itu muncul sebagai mimpi, aku juga takut saat terbangun, hal itu muncul lagi mengisi ruang kosong di pikiranku. Masalalu yang begitu menyedihkan, masalalu yang hampir membunuhku. Aku menyesal karena tidak pernah berhasil menghentikannya. Aku tidak pernah berhasil menolong diriku sendiri dengan melawan. Beberapa belas tahun lalu, begitu jelas ingatanku, seorang aku pada usia enam atau delapan tahun, sedang bermain petak umpet di lapangan luas, saat itu aku tinggal di sebuah perkampungan kecil, masih di pinggiran Ibukota. Aku bermain dengan beberapa teman sebaya, usia mereka mungkin lebih tua satu ata...

it is not easy

I'm trying so hard to stay alive.  Bedrest beberapa hari ini cukup membuat isi kepala saya berputar di situ-situ saja, perihal masalah hidup saya, keinginan mengakhirinya, keinginan menyelesaikannya. Namun, rasanya lebih besar keinginan untuk mengakhirinya, dengan mengakhiri pula hidup saya. Saya kehilangan arah ke mana saya harus pergi, saya kehilangan tempat untuk pulang. Atau, jika benar Tuhan adalah rumah sebenarnya, mengapa saya tidak kembali kepada-Nya sekarang juga? Ketimbang harus mengeluh setiap hari, ketimbang menangis memohon kemudahan, bukankah lebih baik saya langsung menghadap kepada-Nya? Saat berdoa sudah tidak lagi menjadi sumber kekuatan, saat airmata sudah tak mampu lagi menjelaskan, lalu, ke mana lagi saya harus berjalan? Saya telah kehilangan kepercayaan saya, sejak lama. Kepercayaan pada siapapun, bahkan orang tua saya sendiri. Namun, tak mengurangi perasaan sayang saya kepada mereka. Saya mencari kekuatan lagi untuk tetap hidup, dan hidup saya sekaran...

Saya Takut

I want you Yeah I want you And nothing comes close To the way that I need you I wish I can feel your skin And I want you From somewhere within Malam ini saya menangis, membayangkan sebuah kehilangan. Alunan sendu Oceans - Seafret, seakan menegaskan bahwa saya begitu menginginkan kamu. Keinginan yang besar, sebesar samudera. Sebelumnya saya pernah takut kehilangan, tapi tidak semenakutkan ini. Saya membayangkan betapa hancurnya saya, jika ketakutan saya terjadi. Saya membayangkan kamu pergi, entah karena Tuhan berkehendak untuk mengubah perasaan kamu, atau sebuah bentuk pembalasan atas apa yang pernah saya perbuat, adalah seburuk-buruknya mimpi. Saya belum pernah merasa bahagia dan takut dalam satu waktu. Tapi, malam ini Tuhan tunjukkan pada saya bagaimana rasanya.  Saya begitu takut. Saya begitu takut kamu pergi. Saya begitu takut kamu dengan yang lain. Saya begitu takut siap kamu marah. Saya begitu takut kamu akan kecewa pada saya. Say...