Skip to main content

Cinta Itu Berat






Bicara cinta, berarti bicara tentang manusia. Bicara manusia, artinya bicara kebebasan. Bicara kebebasan adalah bicara kesenangan. Apakah cinta itu sebuah kesenangan? Jika iya, mengapa harus berat? Bukankah semestinya kesenangan itu tidak memberatkan apapun? 

Benar, cinta itu menyenangkan. Tapi bagian yang memberatkan adalah, tanggungjawab. Menjadi manusia yang bertanggungjawab. 

Mencintai artinya bertanggungjawab. Atas apa? Atas perasaan diri sendiri, dan perasaan orang yang mencintaimu juga. 

Benar, kebahagiaan itu milikmu sendiri, kamu tidak dianjurkan untuk menggantungkan perasaanmu pada pasanganmu. Tapi menjaga perasaan pasanganmu, dan mempertanggungjawabkannya, adalah kewajiban, kewajiban sebagai pasangan yang baik. 

Pertanyaannya, mampukah kamu menjadi pasangan yang baik?
Jika, jawabannya ragu, artinya kamu tidak cukup baik. Yakinkanlah dulu, yakinkan dirimu sendiri untuk menjadi pasangan yang baik. 

Jika kamu sudah yakin, jagalah keyakinanmu. Jangan sampai goyah, karena keyakinanmu itu adalah bentuk lain dari harga dirimu. Harga dirimu, adalah milikmu, kamulah yang menjaganya agar tetap berharga. 

Oh, tentu saja, siapa manusia hebat yang bisa melakukan hal-hal di atas? Adakah? Oh, tentu ada. Kalau pun tidak ada, cobalah. Dan jadilah manusia pertama yang mampu melakukannya. 

Sebaik-baiknya manusia itu yang mau mencoba, bukan? 

Cinta itu berat, sebab itu, belajarlah.

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...