I'm trying so hard to stay alive.
Bedrest beberapa hari ini cukup membuat isi kepala saya berputar di situ-situ saja, perihal masalah hidup saya, keinginan mengakhirinya, keinginan menyelesaikannya. Namun, rasanya lebih besar keinginan untuk mengakhirinya, dengan mengakhiri pula hidup saya.
Saya kehilangan arah ke mana saya harus pergi, saya kehilangan tempat untuk pulang. Atau, jika benar Tuhan adalah rumah sebenarnya, mengapa saya tidak kembali kepada-Nya sekarang juga? Ketimbang harus mengeluh setiap hari, ketimbang menangis memohon kemudahan, bukankah lebih baik saya langsung menghadap kepada-Nya?
Saat berdoa sudah tidak lagi menjadi sumber kekuatan, saat airmata sudah tak mampu lagi menjelaskan, lalu, ke mana lagi saya harus berjalan? Saya telah kehilangan kepercayaan saya, sejak lama. Kepercayaan pada siapapun, bahkan orang tua saya sendiri.
Namun, tak mengurangi perasaan sayang saya kepada mereka. Saya mencari kekuatan lagi untuk tetap hidup, dan hidup saya sekarang semata-mata hanya untuk membalas mereka yang berbaik hati mendengarkan saya.
Saya tidak lagi takut akan kematian.
Saya masih percaya, ada hal yang lebih besar dan lebih berhak atas diri saya dan semesta ini, tidak peduli, itu Tuhan atau semacamnya. Saya hanya percaya. Saya masih terus berusaha mengumpulkan alasan-alasan untuk tetap bertahan hidup. Saya masih mencari teman-teman yang merasakan hal yang sama, untuk saling menguatkan, untuk saling meyakini bahwa hidup itu indah. Entah, indah di bagian mana. Saya masih merasa memiliki tanggung jawab untuk hidup lebih lama, atau memang saya hanya belum menemukan cara yang benar untuk mati?
Comments
Post a Comment