Skip to main content

it is not easy


I'm trying so hard to stay alive. 

Bedrest beberapa hari ini cukup membuat isi kepala saya berputar di situ-situ saja, perihal masalah hidup saya, keinginan mengakhirinya, keinginan menyelesaikannya. Namun, rasanya lebih besar keinginan untuk mengakhirinya, dengan mengakhiri pula hidup saya.

Saya kehilangan arah ke mana saya harus pergi, saya kehilangan tempat untuk pulang. Atau, jika benar Tuhan adalah rumah sebenarnya, mengapa saya tidak kembali kepada-Nya sekarang juga? Ketimbang harus mengeluh setiap hari, ketimbang menangis memohon kemudahan, bukankah lebih baik saya langsung menghadap kepada-Nya?

Saat berdoa sudah tidak lagi menjadi sumber kekuatan, saat airmata sudah tak mampu lagi menjelaskan, lalu, ke mana lagi saya harus berjalan? Saya telah kehilangan kepercayaan saya, sejak lama. Kepercayaan pada siapapun, bahkan orang tua saya sendiri.

Namun, tak mengurangi perasaan sayang saya kepada mereka. Saya mencari kekuatan lagi untuk tetap hidup, dan hidup saya sekarang semata-mata hanya untuk membalas mereka yang berbaik hati mendengarkan saya.

Saya tidak lagi takut akan kematian.
Saya masih percaya, ada hal yang lebih besar dan lebih berhak atas diri saya dan semesta ini, tidak peduli, itu Tuhan atau semacamnya. Saya hanya percaya. Saya masih terus berusaha mengumpulkan alasan-alasan untuk tetap bertahan hidup. Saya masih mencari teman-teman yang merasakan hal yang sama, untuk saling menguatkan, untuk saling meyakini bahwa hidup itu indah. Entah, indah di bagian mana. Saya masih merasa memiliki tanggung jawab untuk hidup lebih lama, atau memang saya hanya belum menemukan cara yang benar untuk mati?



Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...