Skip to main content

Saya Hanya Bercanda, Jika Kamu Tersinggung, Itu Bukan Urusan Saya

Seringkali saya berkata tanpa memikirkan apa yang saya katakan.
Mengomentari hidup oranglain, memberi pendapat tanpa mau mendengarkan. Sekenanya saja mulut saya berucap, tanpa pernah memikirkan apakah kata-kata saya menyinggung orang lain atau tidak. Acap kali seseorang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, saat itu pula saya mengatakan bahwa kata-kata saya hanya candaan, dan meminta oranglain untuk tidak terbawa perasaan.

Padahal, bukankah mereka berhak menunjukkan ketidaksepakatan dan rasa tersinggung dengan apa yang saya katakan?
Jika mereka tersinggung, jelas-jelas itu adalah kesalahan saya, harusnya saya meminta maaf karena kata-kata saya yang menyinggung, tapi saya malah meminta mereka menekan harga diri mereka dengan kata-kata "gitu aja kok bawa perasaan, sih" atau "lebay banget, saya kan bercanda".

Setelah mengatakan hal-hal demikian, biasanya orang-orang yang saya singgung dengan kata-kata saya, akan bertingkah baik-baik saja. Saya sendiri masih menerka-nerka apakah mereka masih menyimpan perasaan sakit hati karena kata-kata saya.

Selama ini, saya selalu menganggap apa yang diungkapkan oleh kata, tidak sakit, tidak akan melukai secara fisik, kan cuma kata-kata saja. Sayang sekali, saya hanya mengenal luka fisik, luka yang cepat mengering dengan obat-obat biasa. Saya belum tahu bahwa ada luka lain, yaitu luka hati, yang sulit sekali sembuh, yang perlu dokter khusus dan biaya yang mahal. Luka hati yang biasanya disebabkan oleh orang-orang terdekat, seperti saya yang sering berkomentar tentang tubuh teman-teman saya, atau penampilan teman-teman saya, atau bau parfum teman-teman saya. Mengomentari hak mereka, hak mereka yang bebas ingin berpenampilan seperti apa, dan saya tidak punya hak sama sekali menuntut mereka untuk berpenampilan sesuai keinginan saya. Tapi saya tetap melakukan itu, memberi makan alter ego saya, saya tidak peduli perasaan teman saya, itu bukan urusan saya.

Saya tidak pernah mau tahu, bahwa sebenarnya kata-kata itu punya makna, makna baik dan buruk. Saya tidak mau tahu, bahwa kata-kata seseorang bisa mengubah perilaku atau bahkan kepribadian oranglain secara signifikan. Saya tidak mau tahu bahwa kata-kata punya kekuatan.

Sebab, tidak ada yang mengingatkan saya akan hal itu. Lingkungan saya juga begitu, saya juga sering dikomentari dan saya baik-baik saja, saya merasa itu hanya bercandaan. Waktu itu, saya pernah dikomentari soal bau parfum yang saya gunakan, saya biasa saja. Teman dekat saya waktu itu bilang bau parfum saya mirip bau nenek-nenek, saya baik-baik saja dikomentari seperti itu, setelah itu saya ganti parfum lain.

Pernah juga, saya mengenakan baju tanpa lengan, teman laki-laki saya menonjok lengan saya dengan sengaja, dia bilang lengan saya seperti tukang pukul, besar dan keras. Hahaha, biasa saja, saya anggap itu bercanda, saya baik-baik saja. Tapi, setelah itu saya tidak pernah mengenakan pakaian tanpa lengan, saya malas dibercandain tukang pukul. Padahal saya ingin, menurut saya pakaiannya lucu.

Yah, apapun kata-kata saya, menyakiti atau tidak, saya tinggal bilang kalau saya bercanda. Maka masalahnya selesai.

Urusan mereka yang mendengar tersinggung atau tidak, tentu bukan urusan saya.


Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...