Seringkali saya berkata tanpa memikirkan apa yang saya katakan.
Mengomentari hidup oranglain, memberi pendapat tanpa mau mendengarkan. Sekenanya saja mulut saya berucap, tanpa pernah memikirkan apakah kata-kata saya menyinggung orang lain atau tidak. Acap kali seseorang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, saat itu pula saya mengatakan bahwa kata-kata saya hanya candaan, dan meminta oranglain untuk tidak terbawa perasaan.
Padahal, bukankah mereka berhak menunjukkan ketidaksepakatan dan rasa tersinggung dengan apa yang saya katakan?
Jika mereka tersinggung, jelas-jelas itu adalah kesalahan saya, harusnya saya meminta maaf karena kata-kata saya yang menyinggung, tapi saya malah meminta mereka menekan harga diri mereka dengan kata-kata "gitu aja kok bawa perasaan, sih" atau "lebay banget, saya kan bercanda".
Setelah mengatakan hal-hal demikian, biasanya orang-orang yang saya singgung dengan kata-kata saya, akan bertingkah baik-baik saja. Saya sendiri masih menerka-nerka apakah mereka masih menyimpan perasaan sakit hati karena kata-kata saya.
Selama ini, saya selalu menganggap apa yang diungkapkan oleh kata, tidak sakit, tidak akan melukai secara fisik, kan cuma kata-kata saja. Sayang sekali, saya hanya mengenal luka fisik, luka yang cepat mengering dengan obat-obat biasa. Saya belum tahu bahwa ada luka lain, yaitu luka hati, yang sulit sekali sembuh, yang perlu dokter khusus dan biaya yang mahal. Luka hati yang biasanya disebabkan oleh orang-orang terdekat, seperti saya yang sering berkomentar tentang tubuh teman-teman saya, atau penampilan teman-teman saya, atau bau parfum teman-teman saya. Mengomentari hak mereka, hak mereka yang bebas ingin berpenampilan seperti apa, dan saya tidak punya hak sama sekali menuntut mereka untuk berpenampilan sesuai keinginan saya. Tapi saya tetap melakukan itu, memberi makan alter ego saya, saya tidak peduli perasaan teman saya, itu bukan urusan saya.
Saya tidak pernah mau tahu, bahwa sebenarnya kata-kata itu punya makna, makna baik dan buruk. Saya tidak mau tahu, bahwa kata-kata seseorang bisa mengubah perilaku atau bahkan kepribadian oranglain secara signifikan. Saya tidak mau tahu bahwa kata-kata punya kekuatan.
Sebab, tidak ada yang mengingatkan saya akan hal itu. Lingkungan saya juga begitu, saya juga sering dikomentari dan saya baik-baik saja, saya merasa itu hanya bercandaan. Waktu itu, saya pernah dikomentari soal bau parfum yang saya gunakan, saya biasa saja. Teman dekat saya waktu itu bilang bau parfum saya mirip bau nenek-nenek, saya baik-baik saja dikomentari seperti itu, setelah itu saya ganti parfum lain.
Pernah juga, saya mengenakan baju tanpa lengan, teman laki-laki saya menonjok lengan saya dengan sengaja, dia bilang lengan saya seperti tukang pukul, besar dan keras. Hahaha, biasa saja, saya anggap itu bercanda, saya baik-baik saja. Tapi, setelah itu saya tidak pernah mengenakan pakaian tanpa lengan, saya malas dibercandain tukang pukul. Padahal saya ingin, menurut saya pakaiannya lucu.
Yah, apapun kata-kata saya, menyakiti atau tidak, saya tinggal bilang kalau saya bercanda. Maka masalahnya selesai.
Urusan mereka yang mendengar tersinggung atau tidak, tentu bukan urusan saya.
Mengomentari hidup oranglain, memberi pendapat tanpa mau mendengarkan. Sekenanya saja mulut saya berucap, tanpa pernah memikirkan apakah kata-kata saya menyinggung orang lain atau tidak. Acap kali seseorang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, saat itu pula saya mengatakan bahwa kata-kata saya hanya candaan, dan meminta oranglain untuk tidak terbawa perasaan.
Padahal, bukankah mereka berhak menunjukkan ketidaksepakatan dan rasa tersinggung dengan apa yang saya katakan?
Jika mereka tersinggung, jelas-jelas itu adalah kesalahan saya, harusnya saya meminta maaf karena kata-kata saya yang menyinggung, tapi saya malah meminta mereka menekan harga diri mereka dengan kata-kata "gitu aja kok bawa perasaan, sih" atau "lebay banget, saya kan bercanda".
Setelah mengatakan hal-hal demikian, biasanya orang-orang yang saya singgung dengan kata-kata saya, akan bertingkah baik-baik saja. Saya sendiri masih menerka-nerka apakah mereka masih menyimpan perasaan sakit hati karena kata-kata saya.
Selama ini, saya selalu menganggap apa yang diungkapkan oleh kata, tidak sakit, tidak akan melukai secara fisik, kan cuma kata-kata saja. Sayang sekali, saya hanya mengenal luka fisik, luka yang cepat mengering dengan obat-obat biasa. Saya belum tahu bahwa ada luka lain, yaitu luka hati, yang sulit sekali sembuh, yang perlu dokter khusus dan biaya yang mahal. Luka hati yang biasanya disebabkan oleh orang-orang terdekat, seperti saya yang sering berkomentar tentang tubuh teman-teman saya, atau penampilan teman-teman saya, atau bau parfum teman-teman saya. Mengomentari hak mereka, hak mereka yang bebas ingin berpenampilan seperti apa, dan saya tidak punya hak sama sekali menuntut mereka untuk berpenampilan sesuai keinginan saya. Tapi saya tetap melakukan itu, memberi makan alter ego saya, saya tidak peduli perasaan teman saya, itu bukan urusan saya.
Saya tidak pernah mau tahu, bahwa sebenarnya kata-kata itu punya makna, makna baik dan buruk. Saya tidak mau tahu, bahwa kata-kata seseorang bisa mengubah perilaku atau bahkan kepribadian oranglain secara signifikan. Saya tidak mau tahu bahwa kata-kata punya kekuatan.
Sebab, tidak ada yang mengingatkan saya akan hal itu. Lingkungan saya juga begitu, saya juga sering dikomentari dan saya baik-baik saja, saya merasa itu hanya bercandaan. Waktu itu, saya pernah dikomentari soal bau parfum yang saya gunakan, saya biasa saja. Teman dekat saya waktu itu bilang bau parfum saya mirip bau nenek-nenek, saya baik-baik saja dikomentari seperti itu, setelah itu saya ganti parfum lain.
Pernah juga, saya mengenakan baju tanpa lengan, teman laki-laki saya menonjok lengan saya dengan sengaja, dia bilang lengan saya seperti tukang pukul, besar dan keras. Hahaha, biasa saja, saya anggap itu bercanda, saya baik-baik saja. Tapi, setelah itu saya tidak pernah mengenakan pakaian tanpa lengan, saya malas dibercandain tukang pukul. Padahal saya ingin, menurut saya pakaiannya lucu.
Yah, apapun kata-kata saya, menyakiti atau tidak, saya tinggal bilang kalau saya bercanda. Maka masalahnya selesai.
Urusan mereka yang mendengar tersinggung atau tidak, tentu bukan urusan saya.
Comments
Post a Comment