Skip to main content

the black sides

Minggu ini, aku harus pergi lagi ke psikiater. Sebab, beberapa hari terakhir, pikiranku sudah penuh dengan niat untuk mengakhiri hidup. Hal-hal yang sudah kulupakan sekuat tenaga, muncul begitu saja di kepala, bak pemutaran film, begitu jelas, begitu detil. Membuat aku takut untuk berkomunikasi dengan orang-orang sekitarku. Membuat aku takut terbangun untuk tidur, aku takut hal-hal itu muncul sebagai mimpi, aku juga takut saat terbangun, hal itu muncul lagi mengisi ruang kosong di pikiranku.

Masalalu yang begitu menyedihkan, masalalu yang hampir membunuhku. Aku menyesal karena tidak pernah berhasil menghentikannya. Aku tidak pernah berhasil menolong diriku sendiri dengan melawan.

Beberapa belas tahun lalu, begitu jelas ingatanku, seorang aku pada usia enam atau delapan tahun, sedang bermain petak umpet di lapangan luas, saat itu aku tinggal di sebuah perkampungan kecil, masih di pinggiran Ibukota. Aku bermain dengan beberapa teman sebaya, usia mereka mungkin lebih tua satu atau dua tahun, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kami bermain selayaknya anak-anak pada usia itu, berlari, tertawa, bercanda, namun pada satu momen, mereka semua, sekitar tiga orang selain aku, bertingkah aneh, mereka menyeret aku, membawaku ke salah satu pohon besar di pinggir lapangan. Aku lupa dialog apa yang mereka lakukan, aku hanya mengingat saat mereka meminta aku untuk melepas pakaianku, aku terlalu takut untuk menolak, aku terlalu takut untuk berteriak. Ada dua anak laki-laki di hadapanku, dan sisanya menggenggam tanganku dari belakang pohon. Kejadiannya begitu cepat, dua anak laki-laki di depanku, membuka pakaian mereka, dan mendekatkan kemaluannya ke arahku, mereka menggesek kemaluannya secara bergantian ke kemaluanku. Aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan saat itu, aku begitu polos, aku hanya seorang bocah usia enam atau delapan tahun, tapi aku tahu yang mereka lakukan adalah hal yang memalukan.


Sebelumnya, aku tidak pernah sekalipun teringat kejadian itu, aku mungkin sudah lupa, tapi beberapa waktu terakhir, begitu banyak berita yang beredar tentang potret anak-anak kecil di negara ini, potret-potret memalukan yang dengan sengaja disebarluaskan oleh orang yang tidak bertanggungjawab, membuat pikiranku menerka-nerka, membuat aku memaksa mengingat hal memalukan yang pernah terjadi denganku. Ternyata aku belum benar-benar lupa. Aku hanya pura-pura melupakannya. 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...