Skip to main content

Saya Rasa Cukup



Tulisan ini saya buat bukan bermaksud menyalahkan pihak manapun, tulisan ini murni saya tulis untuk mencurahkan segala isi kepala saya.
Kita semua pasti punya batas pada hidup kita, batas-batas yang kita tentukan sendiri, tentu batasan-batasan itu dibuat agar kita tau sampai mana kita mampu.
Begitu juga saya. 

Setahun lalu saya memulai sebuah hubungan, tentu dengan orang yang saya cintai. Saya bahagia, berada sepersekian senti di dekatnya adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Saya sadar hal itu. Tapi di lain sisi, di waktu-waktu yang sedang berjalan, saya menemukan berbagai dinding penghalang, yang awalnya saya rasa, saya sanggup menerobos masuk, namun setelah saya coba berkali-kali membenturkan diri dan berusaha masuk, saya merasa saya tidak akan sanggup. Saya seperti merasa tenaga saya sudah terkuras habis, peluh saya sudah tidak sanggup menanggung bebannya. Ini yang saya sebut batasan, saya rasa ini batas saya. 

Dinding itu adalah pengertian, di dalamnya terdapat berbagai hal yang pasangan saya punya. Dan perbedaan-perbedaan kami yang cukup membuat ngeri. 

Saya si detil, saya pemerhati hal-hal kecil.
Ia si peremeh yang baik, hal-hal kecil tidaklah penting. 

Perbedaan satu hal itu, adalah boom waktu. Bisa menyerang dalam kondisi apa saja. Ketika saya berusaha untuk tepat waktu, dia selalu punya alas an untuk datang terlambat.
Ketika saya berusaha selalu ada, dia selalu punya alasan untuk dianggap sedang sibuk.
Ketika saya sangat merasa bersalah dan minta maaf sebisanya, dia memilih untuk meminta saya menekan ego saya . 

Memang benar dia berhak menentukan pilihan, dan saya tidak pernah bisa menerima pilihan itu sepenuhnya. 

             Hingga akhirnya saya menulis ini, mencoba membuka mata saya lebar-lebar, mengingat apa saja yang sudah dia relakan untuk saya, dan mengingat apa saja yang sudah saya relakan untuknya, dan saya rasa seimbang. Kami tidak pernah saling menuntut, tapi kami berusaha untuk bisa diterima. Saya paham, tidak mudah baginya untuk menerima saya, mungkin karena dia adalah sosok yang pantang menyerah. 
Tapi saya hanyalah perempuan lemah yang sering berpikir untuk menyerah. Saya menyerah bukan karena saya sudah kehabisan tenaga, masih ada sisa-sisa , yang bisa saya maksimalkan untuk berusaha lagi. 

Tapi, setelah yang sudah-sudah, tenaga saya habis sia-sia. Tak dihargai, diam saya salah, bicara pun tak didengar. Peduli saya dianggap menyebalkan, tidak peduli dianggap tidak menyayanginya, melakukan segala sesuatu sendiri dianggap tidak menghargainya, namun ketika saya membutuhkannya, dia pura-pura tak tau. Saya rasa semua ini cukup. Saya harusnya bisa terbang lebih jauh, jauh dari perasaan-perasaan menyebalkan ini.

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...