Tulisan ini saya buat bukan bermaksud menyalahkan pihak
manapun, tulisan ini murni saya tulis untuk mencurahkan segala isi kepala saya.
Kita semua pasti punya batas pada hidup kita, batas-batas
yang kita tentukan sendiri, tentu batasan-batasan itu dibuat agar kita tau
sampai mana kita mampu.
Begitu juga saya.
Setahun lalu saya memulai sebuah
hubungan, tentu dengan orang yang saya cintai. Saya bahagia, berada sepersekian
senti di dekatnya adalah kebahagiaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Saya
sadar hal itu. Tapi di lain sisi, di waktu-waktu yang sedang berjalan, saya
menemukan berbagai dinding penghalang, yang awalnya saya rasa, saya sanggup
menerobos masuk, namun setelah saya coba berkali-kali membenturkan diri dan
berusaha masuk, saya merasa saya tidak akan sanggup. Saya seperti merasa tenaga
saya sudah terkuras habis, peluh saya sudah tidak sanggup menanggung bebannya. Ini
yang saya sebut batasan, saya rasa ini batas saya.
Dinding itu adalah pengertian, di dalamnya terdapat berbagai
hal yang pasangan saya punya. Dan perbedaan-perbedaan kami yang cukup membuat
ngeri.
Saya si detil, saya pemerhati hal-hal kecil.
Ia si peremeh yang baik, hal-hal kecil tidaklah penting.
Perbedaan satu hal itu, adalah boom waktu. Bisa menyerang
dalam kondisi apa saja. Ketika saya berusaha untuk tepat waktu, dia selalu
punya alas an untuk datang terlambat.
Ketika saya berusaha selalu ada, dia selalu punya alasan
untuk dianggap sedang sibuk.
Ketika saya sangat merasa bersalah dan minta maaf sebisanya,
dia memilih untuk meminta saya menekan ego saya .
Memang benar dia berhak menentukan pilihan, dan saya tidak
pernah bisa menerima pilihan itu sepenuhnya.
Tapi saya hanyalah perempuan lemah yang sering berpikir untuk menyerah. Saya menyerah bukan karena saya sudah kehabisan tenaga, masih ada sisa-sisa , yang bisa saya maksimalkan untuk berusaha lagi.
Tapi, setelah yang sudah-sudah, tenaga saya habis sia-sia. Tak dihargai, diam saya salah, bicara pun tak didengar. Peduli saya dianggap menyebalkan, tidak peduli dianggap tidak menyayanginya, melakukan segala sesuatu sendiri dianggap tidak menghargainya, namun ketika saya membutuhkannya, dia pura-pura tak tau. Saya rasa semua ini cukup. Saya harusnya bisa terbang lebih jauh, jauh dari perasaan-perasaan menyebalkan ini.
Comments
Post a Comment