Belakangan ini, beberapa teman saya senang sekali
menyinggung soal status saya, ya, jomlo katanya. Tapi hal itu bahkan tidak
mengubah pikiran saya untuk segera menjalin hubungan ‘pacaran’. Saya hanya
cengengesan, saat teman-teman saya kerap kali meledek saya dengan kata-kata
jomlo.
Begini,
jika hanya sekadar punya status ‘pacaran’ itu gampang, bukannya saya sombong,
tapi memang iya. Beberapa kali, selama saya melajang ini, sudah ada lebih dari
satu laki-laki mengatakan bahwa dia menyayangi saya. Wow, it was suprising. But,
now, i didn’t think being in a relationship. Masih sangat merepotkan bagi saya,
di usia saya yang sekarang. Kenapa? Karena ketika saya memilih untuk menjalin
suatu hubungan asmara, itu artinya saya harus siap mengkhawatirkan orang yang
menjadi pasangan saya. Actually, im not ready for that thing.
Akhir-akhir ini hidup saya sedang penuh dengan ujian-ujian
yang menyebalkan, dan saya tidak ingin melibatkan siapapun di dalamnya. Dan,
selain mengkhawatirkan orang lain, saya juga sedang enggan membagi sebagian
kisah saya dengan orang lain. Dari cerita yang sudah-sudah, saya selalu
mempercayakan rahasia saya kepada orang lain, tapi kemudian mereka pergi,
membawa sebagian besar rahasia saya, dan itu menyebalkan.
Saya juga sedang tidak mau menjaga perasaan siapa-siapa. Saya
tahu, saat saya memilih untuk menjalin suatu hubungan dengan orang lain, itu
artinya saya diharuskan menjaga perasaannya, even, ia tidak melakukan hal yang
sama. Bagi saya, saat saya memilih laki-laki menjadi pasangan saya, maka
perasaannya adalah seratus persen tanggung jawab saya. Untuk sekarang? Tidak.
Mungkin terdengar egois, jika saya mengatakan bahwa saya
lebih peduli dengan perasaan saya. Tapi, hey? Siapa yang mau menjaga perasaan
saya selain diri saya sendiri?
Aktivitas saya saat ini sedang berusaha membunuh saya
perlahan. Menyedihkan sekali jika nanti pasangan saya merengek, mengais
sisa-sisa waktu saya. Kemudian ia menganggap saya tidak peduli dengannya, dan
kemudian menganggap saya tidak menyayanginya. Padahal belum tentu saya tidak
menyayanginya, belum tentu. Mungkin saja memang ia –yang nanti menjadi pacar
saya- bukan prioritas saya. Kembali lagi pikirkan, siapa dia? Hingga berani
meminta saya prioritaskan? Apa yang sudah ia berikan pada hidup saya? Pantaskah?
Kemudian saya akan pergi meninggalkannya, dan ia akan berpikir bahwa saya
menyakitinya. Bukankah begitu? Sungguh merepotkan.
Comments
Post a Comment