Skip to main content

Jatuh cinta? Bukan tidak ingin, tapi sedang tidak mampu



              Belakangan ini, beberapa teman saya senang sekali menyinggung soal status saya, ya, jomlo katanya. Tapi hal itu bahkan tidak mengubah pikiran saya untuk segera menjalin hubungan ‘pacaran’. Saya hanya cengengesan, saat teman-teman saya kerap kali meledek saya dengan kata-kata jomlo.

                Begini, jika hanya sekadar punya status ‘pacaran’ itu gampang, bukannya saya sombong, tapi memang iya. Beberapa kali, selama saya melajang ini, sudah ada lebih dari satu laki-laki mengatakan bahwa dia menyayangi saya. Wow, it was suprising. But, now, i didn’t think being in a relationship. Masih sangat merepotkan bagi saya, di usia saya yang sekarang. Kenapa? Karena ketika saya memilih untuk menjalin suatu hubungan asmara, itu artinya saya harus siap mengkhawatirkan orang yang menjadi pasangan saya. Actually, im not ready for that thing.

                 Akhir-akhir ini hidup saya sedang penuh dengan ujian-ujian yang menyebalkan, dan saya tidak ingin melibatkan siapapun di dalamnya. Dan, selain mengkhawatirkan orang lain, saya juga sedang enggan membagi sebagian kisah saya dengan orang lain. Dari cerita yang sudah-sudah, saya selalu mempercayakan rahasia saya kepada orang lain, tapi kemudian mereka pergi, membawa sebagian besar rahasia saya, dan itu menyebalkan.

                Saya juga sedang tidak mau menjaga perasaan siapa-siapa. Saya tahu, saat saya memilih untuk menjalin suatu hubungan dengan orang lain, itu artinya saya diharuskan menjaga perasaannya, even, ia tidak melakukan hal yang sama. Bagi saya, saat saya memilih laki-laki menjadi pasangan saya, maka perasaannya adalah seratus persen tanggung jawab saya. Untuk sekarang? Tidak.
Mungkin terdengar egois, jika saya mengatakan bahwa saya lebih peduli dengan perasaan saya. Tapi, hey? Siapa yang mau menjaga perasaan saya selain diri saya sendiri?


                Aktivitas saya saat ini sedang berusaha membunuh saya perlahan. Menyedihkan sekali jika nanti pasangan saya merengek, mengais sisa-sisa waktu saya. Kemudian ia menganggap saya tidak peduli dengannya, dan kemudian menganggap saya tidak menyayanginya. Padahal belum tentu saya tidak menyayanginya, belum tentu. Mungkin saja memang ia –yang nanti menjadi pacar saya- bukan prioritas saya. Kembali lagi pikirkan, siapa dia? Hingga berani meminta saya prioritaskan? Apa yang sudah ia berikan pada hidup saya? Pantaskah? Kemudian saya akan pergi meninggalkannya, dan ia akan berpikir bahwa saya menyakitinya. Bukankah begitu? Sungguh merepotkan. 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...