Say something, I'm giving up on you
I'm sorry that I couldn't get to you
Say Something
milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku
di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat
semua orang malas keluar dari persembunyiannya.
Aku salah satunya.
Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini,
dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara
saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil
memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan
pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah.
Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita
ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku
sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa
penyesalan. Atau bahkan sebenarnya aku ingin ditemukan, tapi ditemukan oleh ia
yang telah berhasil membuatku merasa berdosa. Agar saat aku malu karena ketahuan bersembunyi, aku bisa
berpeluh lugu di peluknya. Dan kemudian, dadanya menjadi tempat persembunyianku
yang baru.
Ah, tidak. Delusiku mengambil alih seluruh kewarasan.
Persetan dengan mereka yang mengatakan bahwa sembunyi itu
pengecut. Bahkan, jika semesta mengizinkan, aku memilih untuk sembunyi
selamanya. Sebab, aku tahu, aku tak pernah siap untuk ditemukan. Apalagi, sosok
kamu muncul berbekal caci maki yang siap kau lontarkan ke arahku dan menghukumku dengan pukulan berupa hujatan-hujatan untuk membayar luka yang pernah ku ciptakan.
Demi semesta dan
cakrawala, aku akan mengutuk siapapun yang memberitahu bahwa aku sembunyi
dari rasa yang banyak orang tafsirkan sebagai cinta, cinta yang terlambat aku ungkapkan pada ia yang memilih pergi perlahan dan mengenangku sebagai perempuan yang berhasil menciptakan luka menganga. Kini, aku mulai fasih
menjadi seorang penguntit paling sabar. Meski mataku tak sanggup melihatmu
tersenyum dengan perempuan lain, meski telingaku sakit mendengar kamu berbisik nama perempuan lain, meski jiwaku lara sebab merasakan kau merana.
Sudah kuputuskan untuk tetap diam seribu bahasa, dan tinggal
pada pegalnya kursi persembunyian. Tulisan ini mungkin cukup untuk menjelaskan betapa
tajamnya tatapanku yang penuh harap di dalam ketidakmampuan berucap. Ini juga hukuman,
biar saja aku merasakan belati penyesalan ini menusuk relung dan
menghancurkannya langsung.
Aku siap untuk rela berada sepersekian senti di dekatmu,
tanpa mampu memilikimu.
pertamxxx gan
ReplyDelete