Skip to main content

#2 Diam





Say something, I'm giving up on you
I'm sorry that I couldn't get to you

Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya.

Aku salah satunya.

Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah.

Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penyesalan. Atau bahkan sebenarnya aku ingin ditemukan, tapi ditemukan oleh ia yang telah berhasil membuatku merasa berdosa. Agar saat aku malu karena ketahuan bersembunyi, aku bisa berpeluh lugu di peluknya. Dan kemudian, dadanya menjadi tempat persembunyianku yang baru.

Ah, tidak. Delusiku mengambil alih seluruh kewarasan.

Persetan dengan mereka yang mengatakan bahwa sembunyi itu pengecut. Bahkan, jika semesta mengizinkan, aku memilih untuk sembunyi selamanya. Sebab, aku tahu, aku tak pernah siap untuk ditemukan. Apalagi, sosok kamu muncul berbekal caci maki yang siap kau lontarkan ke arahku dan menghukumku dengan pukulan berupa hujatan-hujatan untuk membayar luka yang pernah ku ciptakan.

Demi semesta dan cakrawala, aku akan mengutuk siapapun yang memberitahu bahwa aku sembunyi dari rasa yang banyak orang tafsirkan sebagai cinta, cinta yang terlambat aku ungkapkan pada ia yang memilih pergi perlahan dan mengenangku sebagai perempuan yang berhasil menciptakan luka menganga. Kini, aku mulai fasih menjadi seorang penguntit paling sabar. Meski mataku tak sanggup melihatmu tersenyum dengan perempuan lain, meski telingaku sakit mendengar kamu berbisik nama perempuan lain, meski jiwaku lara sebab merasakan kau merana.

Sudah kuputuskan untuk tetap diam seribu bahasa, dan tinggal pada pegalnya kursi persembunyian. Tulisan ini mungkin cukup untuk menjelaskan betapa tajamnya tatapanku yang penuh harap di dalam ketidakmampuan berucap. Ini juga hukuman, biar saja aku merasakan belati penyesalan ini menusuk relung dan menghancurkannya langsung.

Aku siap untuk rela berada sepersekian senti di dekatmu, tanpa mampu memilikimu.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...