Aku mulai mempertanyakan keberanian pada induk diriku
sendiri. Rasa apa yang semestinya pantas aku ungkapkan, sedangkan kita masih
berupa angan?
Atau mungkin, aku dan kamu memang masih enggan mengakui
bahwa sebenar-benarnya cinta adalah kita?
Tunggu, apa pantas aku menafsirkan sebuah aku dan kamu
sebagai kita?
Jika cinta diam-diam ini tak pantas kau reka, izinkan aku
mengenangnya sebagai luka paling langka. Beberapa tahun lalu, saat aku dan kamu
sama-sama tak paham, atau bahkan tak ingin memahami bahwa ada rasa yang kerap
kali mereka sebut cinta.
Inikah kenyataan yang selama ini kita buang? Kenyataan yang
sama-sama kita padamkan, kenyataan yang sama-sama kita abaikan.
Adakah keinginan kamu untuk kita kembali berusaha mematahkan
batasan yang fasih disebut ego?
Pada jemari kita yang sering kali bersentuhan tanpa sengaja,
dan rengkuhan penuh dosa yang bermakna, bisakah kita melampiaskan cinta yang
selama ini tenggelam pada lautan dusta?
Comments
Post a Comment