Pada pelukan-pelukan yang belum dikabulkan oleh sang Tuan.
Ada detak jantung yang ingin ku dengar suaranya.
Ada napas yang ingin ku nikmati embusannya.
Ada pundak yang ingin ku rengkuh.
Dan, ada dada yang ingin ku dekap.
Semuanya terjadi dalam satu waktu, adalah saat pelukan yang
penuh ketidakmungkinan itu diizinkan Tuhan.
Pelukan yang bisa menjadi apa saja.
Menjadi rumah, untuk tempat berkeluh kesah pulang.
Menjadi wadah, untuk airmata jatuh dan membasahi pakaian sang
Tuan.
Menjadi langit, untuk mata hati yang mulai memburam.
Atau bahkan menjadi lagu, untuk menampung lirih-lirih sendu.
Aku bahkan rela, tertinggal dalam sebuah peluk, selama sang
pemilik sanggup memeluk.

Comments
Post a Comment