Skip to main content

Pamit





Setelah sekian banyak malam ku lalui, setelah sekian banyak waktu ku biarkan pergi, aku masih di sini. 


Dalam keadaan hati yang tak kuat lagi berdiri sendiri. Menopang pondasi hubungan kita. Ku pastikan kita masih ada, biarpun ragu telah merenggut segala keyakinan, aku hampir kehilangan cara yang baik untuk menjaganya. 

Tuan, apa telingamu masih berfungsi? oh, maaf pertanyaanku terlalu mengada-ngada ya? Ah, tapi aku serius. Apa masih? 

Ku yakin masih, tapi apa kau mendengar semua suara yang aku bisikan padamu selama ini? Apa kau mendengar aku sebaik kau mendengar deru angin malam yang setiap hari kau tembus dengan sepeda motormu? 

Bolehkah aku ingatkan lagi, berapa kali aku ingin menyerah menggenggam hubungan kita ini? Rasanya melepaskan adalah satu-satunya pilihan terakhir. 

Tuan, aku ingin pamit. 

Ketahuilah, Tuan. Pamit tidak selalu berarti pergi selamanya. 

Aku ingin, karena jemariku tak lagi kokoh untuk menggenggam kita. Lenganku tak lagi mampu merangkulmu seperti dulu. Dan pundakku, sudah tak sanggup lagi menjadi sandaran saat kau kelelahan. 

Tidak, Tuan. Kau tidak kehilangan aku, kau hanya kehilangan kita. Kau dan aku akan tetap berjalan bersama, tetapi dengan jalan yang telah Tuhan siapkan sebelum kau dan aku bertemu dulu.

Sekali lagi, Tuan. Aku pamit. 

Ini memang menyakitkan, aku paham betapa kau sangat menginginkan aku untuk tetap hadir dalam setiap detik hari-harimu. Betapa aku yakin kau sangat mencintaiku. Tapi kau harus paham, yang tinggal tidak akan selamanya tetap tinggal, semua kehendak waktu dan bagaimana cara kau mempertahankan mereka yang ingin pergi agar bersedia tak jadi pergi. 

Ada kehilangan yang sakitnya harus kau terima, mungkin akan suram, kau harus belajar bahwa dari setiap pergi akan selalu ada kembali. Tuan, jika kau memang rumahku, tak usah takut, aku hanya ingin pamit, mengambil kembali puing-puing waktu yang aku sia-siakan. Ingat? Cinta selalu tahu ke mana harus pulang, Tuan. 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...