Setelah sekian banyak malam ku lalui, setelah sekian banyak waktu ku biarkan pergi, aku masih di sini.
Dalam keadaan hati yang tak kuat lagi berdiri sendiri. Menopang pondasi hubungan kita. Ku pastikan kita masih ada, biarpun ragu telah merenggut segala keyakinan, aku hampir kehilangan cara yang baik untuk menjaganya.
Tuan, apa telingamu masih berfungsi? oh, maaf pertanyaanku terlalu mengada-ngada ya? Ah, tapi aku serius. Apa masih?
Ku yakin masih, tapi apa kau mendengar semua suara yang aku bisikan padamu selama ini? Apa kau mendengar aku sebaik kau mendengar deru angin malam yang setiap hari kau tembus dengan sepeda motormu?
Bolehkah aku ingatkan lagi, berapa kali aku ingin menyerah menggenggam hubungan kita ini? Rasanya melepaskan adalah satu-satunya pilihan terakhir.
Tuan, aku ingin pamit.
Ketahuilah, Tuan. Pamit tidak selalu berarti pergi selamanya.
Aku ingin, karena jemariku tak lagi kokoh untuk menggenggam kita. Lenganku tak lagi mampu merangkulmu seperti dulu. Dan pundakku, sudah tak sanggup lagi menjadi sandaran saat kau kelelahan.
Tidak, Tuan. Kau tidak kehilangan aku, kau hanya kehilangan kita. Kau dan aku akan tetap berjalan bersama, tetapi dengan jalan yang telah Tuhan siapkan sebelum kau dan aku bertemu dulu.
Sekali lagi, Tuan. Aku pamit.
Ini memang menyakitkan, aku paham betapa kau sangat menginginkan aku untuk tetap hadir dalam setiap detik hari-harimu. Betapa aku yakin kau sangat mencintaiku. Tapi kau harus paham, yang tinggal tidak akan selamanya tetap tinggal, semua kehendak waktu dan bagaimana cara kau mempertahankan mereka yang ingin pergi agar bersedia tak jadi pergi.
Ada kehilangan yang sakitnya harus kau terima, mungkin akan suram, kau harus belajar bahwa dari setiap pergi akan selalu ada kembali. Tuan, jika kau memang rumahku, tak usah takut, aku hanya ingin pamit, mengambil kembali puing-puing waktu yang aku sia-siakan. Ingat? Cinta selalu tahu ke mana harus pulang, Tuan.

Comments
Post a Comment