Skip to main content

Times Running, People Changing




Aku seperti hadir, namun tak ada. Mengejar seseorang, tapi ia tak juga berhenti, mencintai seperti tak dihiraukan.

Adakah aku, Tuan?
Ah, tak usah kau jawab, karena aku tahu jawabannya. Tentu saja, kau akan menjawab aku ini ada. Ya, aku memang ada, tapi entah sebagai apa.

Salahkah aku, Tuan?
Jawab saja, jika memang keberadaanku tak tepat waktu, atau mungkin mengganggu. Tak apa, sejauh ini aku berusaha mengerti. Aku yang belum siap, atau mungkin aku yang belum sadar arti aku sebenarnya.

Terima kasih, Tuan.
Untuk apa? Untuk hadirmu, meski semu. Untuk waktu sempit yang kau beri, untuk kamu yang bersedia masuk ke kehidupanku.

Aku lelah, Tuan. Aku lelah mengemis padamu, mengemis segala perhatianmu, mengemis segala waktumu, atau bahkan cintamu. Rinduku yang kusemat rapi, tak pernah kau sadari. Seperti setengah hati kau menjalani.

Kau lengah, Tuan. Aku terlalu sering mengerti, hingga aku lelah sendiri. Harusnya memang tak ku paksakan, aku terlalu terburu-buru, aku terlalu menginginkanmu. Tidak, ini tak sepenuhnya salahmu, aku yang terlalu menuntut jauh.

Maafkan aku, Tuan.
Aku kira, ini adalah batas kemampuanku untuk sabar. Sudahi, aku hampir kehabisan waktu mengikis egoku sendiri, aku muak, aku ingin pergi. Kau mungkin ingin dimengerti, tapi aku yang lelah sendiri.

                Tiba-tiba saja, aku bertanya cinta seperti apa yang ada dipikiranmu? Cinta seperti apa yang membuatmu yakin bahwa kau mencintaiku? Aku bahkan tak merasakannya, aku bahkan meragukannya. Apa hanya sebatas kata-kata? Apa sebatas itu?

                Dibandingkan kau, aku memang kalah dalam hal mengatakan kata-kata cinta, tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku melakukannya, agar kau merasa, agar kau percaya, cintaku itu ada.

Percayakah, Tuan? Waktu bisa kapan saja meruntuhkan perasaan seseorang. Mungkin tidak hari ini, tapi entah esok, lusa, atau waktu lainnya. Aku justru menggelisahkan hal itu terjadi padaku. Mungkin benar kau mencintaiku, tapi apakah waktu percaya? Tidakkah kau mengkhawatirkan hal itu?

Jujur saja, Tuan. Jika kau bertanya, apakah aku takut kehilanganmu? Jawabannya adalah tidak. Aku tidak pernah takut kehilanganmu. Yang ku takutkan adalah, kehilangan semua cintamu. Tapi sebelum aku kehilangan hal itu, kau terlebih dulu kehilangannya. Perasaanku mengikis dibawa waktu. Apa pedulimu? Aku? Atau apa? Sikapmu justru menuntunku untuk menyadari, betapa tak berharganya aku di matamu. Aku menyerah, Tuan. Bertingkah seakan-akan akulah hidupmu, seakan-akan aku penting bagimu.


Bagaimana, Tuan? Apa baiknya kita akhiri sandiwara ini? Jika kau tak mampu menanggung beban memiliki aku, bolehkah aku pergi dan membebaskan diri? 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...