Aku seperti hadir, namun tak ada. Mengejar seseorang, tapi
ia tak juga berhenti, mencintai seperti tak dihiraukan.
Adakah aku, Tuan?
Ah, tak usah kau jawab, karena aku tahu jawabannya. Tentu saja,
kau akan menjawab aku ini ada. Ya, aku memang ada, tapi entah sebagai apa.
Salahkah aku, Tuan?
Jawab saja, jika memang keberadaanku tak tepat waktu, atau
mungkin mengganggu. Tak apa, sejauh ini aku berusaha mengerti. Aku yang belum
siap, atau mungkin aku yang belum sadar arti aku sebenarnya.
Terima kasih, Tuan.
Untuk apa? Untuk hadirmu, meski semu. Untuk waktu sempit
yang kau beri, untuk kamu yang bersedia masuk ke kehidupanku.
Aku lelah, Tuan. Aku lelah mengemis padamu, mengemis segala
perhatianmu, mengemis segala waktumu, atau bahkan cintamu. Rinduku yang kusemat
rapi, tak pernah kau sadari. Seperti setengah hati kau menjalani.
Kau lengah, Tuan. Aku terlalu sering mengerti, hingga aku
lelah sendiri. Harusnya memang tak ku paksakan, aku terlalu terburu-buru, aku
terlalu menginginkanmu. Tidak, ini tak sepenuhnya salahmu, aku yang terlalu
menuntut jauh.
Maafkan aku, Tuan.
Aku kira, ini adalah batas kemampuanku untuk sabar. Sudahi,
aku hampir kehabisan waktu mengikis egoku sendiri, aku muak, aku ingin pergi. Kau
mungkin ingin dimengerti, tapi aku yang lelah sendiri.
Tiba-tiba
saja, aku bertanya cinta seperti apa yang ada dipikiranmu? Cinta seperti apa
yang membuatmu yakin bahwa kau mencintaiku? Aku bahkan tak merasakannya, aku
bahkan meragukannya. Apa hanya sebatas kata-kata? Apa sebatas itu?
Dibandingkan kau, aku memang kalah dalam hal mengatakan
kata-kata cinta, tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku melakukannya,
agar kau merasa, agar kau percaya, cintaku itu ada.
Percayakah, Tuan? Waktu bisa kapan saja meruntuhkan perasaan
seseorang. Mungkin tidak hari ini, tapi entah esok, lusa, atau waktu lainnya. Aku
justru menggelisahkan hal itu terjadi padaku. Mungkin benar kau mencintaiku,
tapi apakah waktu percaya? Tidakkah kau mengkhawatirkan hal itu?
Jujur saja, Tuan. Jika kau bertanya, apakah aku takut
kehilanganmu? Jawabannya adalah tidak. Aku tidak pernah takut kehilanganmu. Yang
ku takutkan adalah, kehilangan semua cintamu. Tapi sebelum aku kehilangan hal
itu, kau terlebih dulu kehilangannya. Perasaanku mengikis dibawa waktu. Apa pedulimu?
Aku? Atau apa? Sikapmu justru menuntunku untuk menyadari, betapa tak
berharganya aku di matamu. Aku menyerah, Tuan. Bertingkah seakan-akan akulah
hidupmu, seakan-akan aku penting bagimu.
Bagaimana, Tuan? Apa baiknya kita akhiri sandiwara ini? Jika
kau tak mampu menanggung beban memiliki aku, bolehkah aku pergi dan membebaskan
diri?
Comments
Post a Comment