Skip to main content

Adakah Kita?



Minggu malam yang panjang, namun aku tetap berusaha menikmati tembakau yang aku hisap dalam-dalam, dengan embusan napas yang terengah-engah dan debar jantung yang tak lagi berirama.

Aku sedang berusaha, berusaha mengeyahkan pikiran tentang seseorang yang keberadaannya sulit  kujangkau, masih dalam perihal menunggu pagi, kemudian sibuk dengan hari-hari. Sekian kali aku mengatakan bahwa aku benci menunggu, aku benci merasakan waktu berlalu, tapi ia tak juga mengerti. Membohongi diri sendiri dengan menjadi perempuan serba mengerti, meski diabaikan, meski –mungkin- tak diingat. Menyelaraskan ego dengan kesabaran, agar semua tak berantakan.

Haruskah aku melukai hati lagi? Dengan membunuh induk perasaan yang dinamakan cinta, dan mengubur anak-anak rindu yang sudah berkumpul ingin menyerbu. Kau menyebut kita, tapi aku tak merasa. Aku lebih nyaman menyebut kau dan aku, karena nyatanya kita adalah hal yang semu. Lantas, bagaimana kau bisa menyebut kau dan aku sebagai kita, sedangkan aku yang selalu berjuang mengimbangi sibukmu?

 Atau memang pertemuan kita pada puluh-puluh malam lalu adalah sebuah kesalahan yang waktu rangkai? Demi malam yang pekat dan sunyi, aku sering terhantuk dengan egoku sendiri, dan bertanya aku sedang berjuang untuk apa dan siapa?

Ujian kesabaran apalagi yang harus aku pelajari? Demi lulus menjadi manusia sempurna yang layak disebut kekasih?

Sebutkan saja jika memang aku terlalu mengganggu harimu, atau merepotkan hidupmu. Aku hanya tak ingin dirunut rasa penyesalan karena membuat hati seseorang terluka dengan memilih pergi begitu saja, aku ingin menjaganya, tapi bagaimana ia yang tak pernah berusaha melakukan hal yang sama?

Kau lihat? Berapa banyak tanda tanya yang ku sempatkan pada rentetan kata ini –yang entah kau baca atau tidak- pertanyaan yang enggan kutanyakan lagi, sebab telah kutanyakan berulang kali.

Tuan, mungkin kau memilikiku sekarang, tapi bagaimana caramu mempertahankan aku yang telah menjadi milikmu? Aku enggan berjanji mencintaimu sampai mati, tapi bukan berarti aku tak ingin. Sebab pemilik konsep kebersamaan adalah waktu, dan bahwasannya desir-desir aneh yang disebut perasaan cinta adalah sementara, bisa berubah kapan saja, ya, tergantung bagaimana cara kau menjaga.

Adakah pertanyaan mengerikan seperti “Bagaimana jika tawaku dimiliki orang lain?” di kepalamu? Jika benar kau mencintaiku, setengah mati kau akan berusaha menjaga tawaku agar menjadi milikmu satu.

Adakah angan-angan menakutkan seperti “Bagaimana jika ada jemari lain yang menyemat jemariku selain jemarimu?” di kepalamu? Jika benar kau menginginkanku, kau takkan rela hal itu terjadi.

Bagaimana, Tuan?

Bagaimana lagi aku harus meyakinkan hati agar tak berpikir untuk pergi? 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...