Skip to main content

Kisah Lain di Pinggiran Jakarta




#30HariKotakuBercerita akhirnya tiba. kini, giliran saya untuk bercerita.


“A great city is not confounded with a populous one.” – Aristotle


                Jakarta macet, Jakarta padat, Jakarta banjir, Jakarta banyak demo, Jakarta panas dan bla bla bla. Setiap warga Jakarta pasti sering mendengar olokan semacam itu dari rekannya yang tidak tinggal di Jakarta, tapi sadarkah, jika yang diolokan itu adalah sebuah Ibukota negara? Pusat distrik ekonomi terbesar di Indonesia? Banyak para kepala keluarga, atau perempuan-perempuan mandiri yang mengadu peruntungan di kota ini. Mereka tak peduli seberapa macet, padat, panas, bahkan parahnya banjir tahunan yang rutin melanda kota ini.

Paragraf di atas adalah sedikit intermezzo tentang Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Saya sendiri tinggal di pinggiran utara kota, tepatnya di Kecamatan Pademangan. Saya yakin, pasti banyak dari kalian yang tidak tahu, baiklah. Tempat saya tinggal memang tidak seterkenal wilayah Jakarta lainnya, tapi jika saya menyebut Ancol, Kemayoran, Mangga Dua, Senen, Tanjung Priok, saya yakin pasti kalian familiar dengan beberapa tempat yang saya sebutkan itu. Tempat-tempat itu menjadi patokan saya jika ada teman yang bertanya di mana rumah saya.

Dari beberapa tempat yang saya sebutkan di atas, saya akan membahas satu tempat yang mempunyai stereotip di masyarakat luas sebagai tempat balapan liar, atau berbagai macam kecelakaan, bahkan kejahatan. Ya, Landasan Pacu Kemayoran atau lebih dikenal dengan Kemayoran. 



Sejarahnya, dulu Kemayoran adalah sebuah bandara, namun ditutup pada tahun 1992 kemudian dijadikan pemukiman warga dan 44 hektare sisa wilayahnya menjadi tempat penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta yang diadakan rutin tiap tahunnya menyambut ulang tahun Jakarta. Selain itu, sering juga menjadi wadah untuk acara-acara besar lainnya seperti Djakarta Warehouse Project, Indonesia International Motor Show, dan yang lainnya. Memang benar, Kemayoran adalah daerah yang nyaman sekali untuk balapan, mengingat jalan rayanya yang mulus dan lurus, sehingga anak motor menyulap jalan raya Kemayoran menjadi sirkuit. Tidak jarang juga terjadi kecelakaan maut, atau ladang kriminalitas.





Namun, beberapa bulan terakhir ini Kemayoran menjadi terkenal karena menjadi lokasi shooting film The Raid 2, meski terlihat masih banyak sampah, atau pedagang asongan yang berjualan di sembarang tempat, atau pemandangan mengerikan pengendara motor yang tidak menggunakan helm, Kemayoran telah menjadi ikon kota Jakarta yang cukup menarik untuk dibahas.

Kemayoran juga terkenal dengan kulinernya yang murah yaitu Ketan Susu, anak motor Jakarta atau bahkan anak gaul, pasti tahu tentang makanan ini. Atau mungkin tentang kehidupan perempuan-perempuan malamnya yang menjajakkan diri di hampir setengah jalan Kemayoran. Begitulah potret kehidupan yang berhasil saya rekam dalam memori saya tentang Kemayoran.

Bagaimana? Jika teman-teman yang ingin berkunjung ke Jakarta, berminatkah kalian menambah Kemayoran di daftar kunjungan kalian?

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...