(source: tumblr)
Aku meneguk kopi yang ku buat beberapa menit lalu, kemudian aku menaruh harapan pada tiap teguknya. Harapan berupa doa untuk merelakan..
Ku hirup aromanya, menyesapnya dengan penuh rasa bersalah, aku telah melukai rasa manis dengan pahitnya kerinduan pada seseorang. Mencintainya, adalah tugasku, tapi aku gagal menjadi sosok penyabar untuknya, aku bukan seorang penunggu yang baik. Aku tahu, ia telah berusaha menjadi seseorang yang aku inginkan, aku tahu kesibukkannya tak terbantahkan, aku ingin sekali lagi mencoba menjadi lebih tabah, tapi waktu menyadarkan aku, bahwa batas kemampuanku tak sehebat itu.
Kini, aku memilih untuk membuang jauh harapanku dan memilih untuk melukai perasaanku sendiri dengan mundur perlahan dari hidupnya, bahkan kecupan lembut di bibirku, tak mampu membuatku menjadi seorang penyabar. Rengkuhan hangat tubuhnya pun, tak kuasa menahanku untuk menjauh.
Aku mungkin telah dikecewakan, tapi bukan berarti aku lantas menutup hatiku untuk tidak memaafkan. Hanya saja, aku belum mampu untuk memberinya kesempatan kesekian kalinya. Aku mencintai segala yang ia punya, senyumnya, cara ia bicara, aroma tubuhnya, aku bahagia pernah memilikinya. Peluknya menenangkan, kecupannya memabukkan, lalu, pada bagian mana aku harus mulai melupakan?
Mungkin, hanya ini waktu yang kita punya, Tuhan yang menentukan segalanya, sebuah pertemuan ataupun perpisahan. Kita hanya mimpi indah yang nyata. Kita punya dunia yang langka, perbedaan itu membuatku meronta kesakitan, waktu yang sempit, pertemuan yang sedikit, bukan keinginan perempuan manapun pada laki-lakinya. Aku pemabuk paling mahir, apa lagi kalau bukan memabukkan segala tentangmu, yang sekarang layu.
Sekali lagi, aku menyadarkan diri bahwa kita tak pernah berhasil sampai detik ini, aku harus melukai kita yang pernah aku dan kamu bina. Terima kasih, kau mengajarkanku cara mempertahankan paling tabah, dan berjuang paling sabar.

Comments
Post a Comment