Baru saja, aku tersadar dari lamunanku.
Memang, telah lama sejak kepergianmu, aku sering
menghabiskan waktu untuk melamun, dan bergulat dengan pikiranku sendiri.
Berusaha berdamai dengan segala rindu yang sudah beranak
pinak, dan menghindari setiap kenangan yang memukul aku hingga jatuh.
Ini kesekian kalinya aku berusaha melepaskan, agar terwujud
cinta yang sakral. Cinta yang sebagaimana mestinya, sudah kuberikan berupa
sebuah kerelaan, atas keputusanmu.
Aku benci menyadarkan diri dari lamunanku, bahwa kita memang
sudah tak ada lagi. Paling tidak, biarkan aku terseret arus yang mengulum
waktu, mengembalikanku pada masa bahagia. Meskipun, hanya sebatas pernah, aku tak
mau menganggapmu sebagai hal yang fana.
Aku bahkan rela, hidup selamanya di dalam lamunan. Karena,
ku tahu kenyataan begitu menakutkan.
Kamu selalu menjadi alasan mengapa hati ini tak kuberikan
kepada siapa-siapa.
Kau tahu? Suatu kebenaran yang baru saja kutemukan, bahwa
bukan aku saja yang sedang merindu, tapi setiap sudut rumahku, tiap jalan yang
pernah kita lewati, bahkan secangkir kopi kita, juga merasakan kerinduan,
kerinduan akan hadirmu yang lugu.
Comments
Post a Comment