Skip to main content

Belajar Menerima Sebuah Kepergian



Sudah berapa kali kalian merasa kehilangan? Ya, tentu saja kehilangan seseorang yang sangat sangat sangat berarti dalam hidup kalian. Berkali-kali? Ya, aku pun.

Aku yakin, di antara kalian, pasti sudah paham bagaimana perihnya ditinggalkan, atau bahkan sudah lumrah dengan getirnya kepergian.

Aku adalah bagian dari kalian, yang pernah merasa kehilangan, bukan hanya sekali, dua kali, tapi berkali-kali. Bersyukurlah, hati dan perasaan kalian masih bisa merasa sakit, itu artinya perasaan kalian tak pernah mati.

Bicara tentang kehilangan, memang tak akan ada habisnya. Kau harus siap, siap untuk merasa perih dan sesekali merelakan airmata jatuh untuk mengingatnya. Begitulah, aku pun tak menyanggupi jika harus terus-menerus bicara tentang kehilangan atau seseorang yang telah memilih pergi.

Namun, dengan sebuah kehilangan, kau akan belajar, banyak hal-sangat banyak- seperti menerima kenyataan bahwa hadirmu tak cukup baik untuk kehidupan seseorang, atau mungkin jauh dari kata layak. Kabar baiknya, kau akan menerima hal baru yang akan hadir.
Setiap yang pergi, akan selalu digantikan dengan yang datang. Dan yang datang, belum tentu akan pergi, ya, semua tergantung bagaimana cara kau mempertahankannya, menjaganya, dan membuatnya merasa dibutuhkan.

Sebab, salah satu alasan seseorang memilih pergi adalah, adanya perasaan bahwa hadirnya tak lagi dibutuhkan. Atau bahkan, perasaan bebas yang berlebihan. Kau juga tak bisa memutar waktu, yang bisa kau lakukan hanya belajar menerima masalalu.

Jaga ia, yang kau miliki sekarang, pertahankan ia, dan buatlah hadirnya begitu diharapkan.
Kau tak akan tahu, kapan seseorang akan pergi. Dan penyesalan tak pernah kenal kata permisi.


Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...