Skip to main content

Kamu Lagi Apa?






Kali ini, aku ingin bertanya pada kalian. Tentang bagaimana memercayai seseorang yang sulit sekali memberi kabar?

Bisakah? 

Ya, aku memang sedang membicarakan seseorang, yang sebenarnya mirip sekali denganku. Aku pernah menjadi dirinya. Dan aku baru sadar, hal itu adalah sebuah kesalahan. Aku pernah membuat seseorang marah dan pusing, hanya karena sebuah kabar.

Kalian boleh menghardikku dengan kata-kata ampuh berupa “Penyesalan memang selalu datang belakangan, Fau.” Ya, silakan. Aku memang sedang merasakannya. 

Ku beritahu, kabar bukanlah sebuah ‘hanya’, atau sebuah ‘kadang’. Kabar adalah hal yang dibutuhkan untuk memupuk rasa kepercayaan. Ada seseorang yang mengajarkanku tentang ini secara tidak langsung. 

Beberapa bulan lalu, aku adalah sosok yang tak peduli dengan sebuah kabar, menganggapnya hal yang tidak penting. Dan sekarang, aku menghadapi orang yang sama.
Kalian tahu? Setengah mati aku berusaha untuk memercayainya. Tapi sulit, itulah alasan aku bertanya pada kalimat pertama tulisan ini. 

Seperti kutipan Bernard Batubara dalam novel Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri.

“Jika ia adalah seseorang yang layak kau tunggu, ia tidak akan memberimu hanya sebuah kadang”

Seberapapun seseorang mencintaimu, kau tak akan mudah memercayainya, tanpa sebuah kabar. Sesering apapun ia mengatakan menyayangimu, tak akan ada artinya, jika memberimu sebuah kabar saja, ia sulit. 

Satu hal yang akan selalu aku ingat, sibuk itu hanya mitos. Ya, mitos, artinya sibuk itu sebenarnya tidak ada. Semua tergantung pada apa yang kalian anggap penting, semakin penting seseorang, maka tanpa alasan apapun, ia akan selalu menjadi prioritas. 

Kau bisa tahu, seberapa penting dirimu dari seberapa sering seseorang memberimu kabar. Sederhana, bukan?


Comments

  1. Just mitos. Setuju kalo sibuk itu ngga ada. Tergantung sama orang nya, semakin penting seseorang, tanpa alasan apapun, ia akan menjadi prioritas. Setuju setujuuu!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...