Surat untuk adikku tersayang.
Dik, taukah bahwa kamu adalah harta berharga untuk aku (sebagai kakakmu) ? Dik, taukah jika aku (kakakmu) bekerja keras demi melanjutkan perjuangan ayah dan ibu untuk mewujudkan impiannya? Untuk menjadikanmu sosok manusia yang berguna kelak?
Dik, kakakmu begitu amat mencintaimu, jangan kamu melukai hatinya dengan membentaknya, atau bahkan mengeluarkan kata-kata yang kotor kepada kakakmu.
Dik, harusnya kamu bersyukur, beruntunglah kamu memiliki kakak, kakak yang menjadi orangtua keduamu setelah ayah dan ibu. Tempat untukmu pulang kelak ketika kamu merasa lelah, tempat berbagi semua beban, tempat meminta nasehat dan doa.
Dik, jadilah manusia yang penuh dengan rasa hormat, terhadap kakakmu, dan orang lain yang akan mengenalmu. Buatlah kami (sebagai kakak) bangga dengan kamu sebagai orang yang mempunyai darah serupa.
Dik, mungkin memang tak semua sikap kami (sebagai kakak) selalu benar, tapi percayalah, kakak selalu menginginkan adiknya menjadi manusia yang penuh kebenaran. Kami (sebagai kakak) telah lebih dulu hidup dan mencicipi manis pahit hidup. Kami tau, mana yang baik dan buruk.
Dik, maafkan sifat keras kepala dan keegoisan kami (sebagai kakak). Maafkan sering memarahi dan melampiaskan kekesalan kami terhadapmu, dik. Sama seperti ayah dan ibu, sebagai kakak juga menginginkan yang terbaik untuk adiknya. Tak ada kebencian di benak kami (sebagai kakak) sedikitpun. Meski kami sering membuat kalian sakit hati. Tapi percayalah, kami sebagai kakak teramat sangat menyayangi kalian sebagai adik.
Dik, mungkin kasih ibu sepanjang masa, tapi kasih kamipun tak kalah panjangnya, sepanjang perjalanan hidup kami berusaha memberi apa yang kalian ingin.
Dik, jangan pergi jauh-jauh. Ada darahku mengalir di sana, di tubuhmu. - Pidi Baiq.
Dik, taukah bahwa kamu adalah harta berharga untuk aku (sebagai kakakmu) ? Dik, taukah jika aku (kakakmu) bekerja keras demi melanjutkan perjuangan ayah dan ibu untuk mewujudkan impiannya? Untuk menjadikanmu sosok manusia yang berguna kelak?
Dik, kakakmu begitu amat mencintaimu, jangan kamu melukai hatinya dengan membentaknya, atau bahkan mengeluarkan kata-kata yang kotor kepada kakakmu.
Dik, harusnya kamu bersyukur, beruntunglah kamu memiliki kakak, kakak yang menjadi orangtua keduamu setelah ayah dan ibu. Tempat untukmu pulang kelak ketika kamu merasa lelah, tempat berbagi semua beban, tempat meminta nasehat dan doa.
Dik, jadilah manusia yang penuh dengan rasa hormat, terhadap kakakmu, dan orang lain yang akan mengenalmu. Buatlah kami (sebagai kakak) bangga dengan kamu sebagai orang yang mempunyai darah serupa.
Dik, mungkin memang tak semua sikap kami (sebagai kakak) selalu benar, tapi percayalah, kakak selalu menginginkan adiknya menjadi manusia yang penuh kebenaran. Kami (sebagai kakak) telah lebih dulu hidup dan mencicipi manis pahit hidup. Kami tau, mana yang baik dan buruk.
Dik, maafkan sifat keras kepala dan keegoisan kami (sebagai kakak). Maafkan sering memarahi dan melampiaskan kekesalan kami terhadapmu, dik. Sama seperti ayah dan ibu, sebagai kakak juga menginginkan yang terbaik untuk adiknya. Tak ada kebencian di benak kami (sebagai kakak) sedikitpun. Meski kami sering membuat kalian sakit hati. Tapi percayalah, kami sebagai kakak teramat sangat menyayangi kalian sebagai adik.
Dik, mungkin kasih ibu sepanjang masa, tapi kasih kamipun tak kalah panjangnya, sepanjang perjalanan hidup kami berusaha memberi apa yang kalian ingin.
Dik, jangan pergi jauh-jauh. Ada darahku mengalir di sana, di tubuhmu. - Pidi Baiq.
Comments
Post a Comment