Skip to main content

Cerita pagi ini


Sedih, itu satu kata yang bisa gue ucapkan pagi ini, seperjalanan tadi menuju kantor, gue liat di depan komplek perumahan gue jalannya ditutup karena ada penebangan pohon. Gue tau betul pohon itu udah lama banget, pohonnya rimbun, batangnya kokoh. Karena penasaran, gue tanya sama salah satu warga yang ikut bantu penebangan itu.
"Pak, mohon maaf saya mau tanya, ini kenapa pohonnya ditebang?"
"Kata warga sini, kalo malem suka ada kuntilanaknya neng, banyak warga yang diketawain."
"Oh gitu, makasih ya pak."

Awalnya, gue ngerasa biasa aja dengan kasus seperti itu, ini bukan sekali duakali, pohon ditebang dengan alasan ada "penunggunya". Tapi sepanjang perjalanan, gue kepikiran terus. Kenapa? Pertama, apa mereka engga ada alasan yang lebih konkret untuk menebang pohon?
Kedua, kenapa harus ditebang? Sedangkan banyak orang pinter yang bisa berinteraksi dengan hal-hal astral seperti itu. Kenapa engga minta tolong untuk usir, atau sekadar buat komitmen supaya 'dia' engga ganggu?
Ketiga, kita butuh lebih banyak oksigen. Sangat banyak, melihat kehidupan kota Jakarta yang semakin lama semakin gila, polusi dimana-mana, panas hampir membakar kulit, kenapa masih ada orang berpikiran pendek?

Please, pohon itu engga salah apa-apa. Menumbuhkan 1 pohon itu engga sebentar, butuh waktu bertahun-tahun.
Kenapa kita engga bersyukur dengan adanya pohon-pohon itu? Dan belum tentu kita bisa menanamnya, iya kan? Bantulah, bantu merawat, dan melindungi. Kita semua butuh, untuk anak cucu kita kelak.

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...