Skip to main content

Tentang melupakan dan dilupakan.

Siapa yang melupakan ? dan apa yang dilupakan? 

Seringkali kita mendengar seseorang yang kiat sekali ingin melupakan, dan mereka yang merasa pedih saat dilupakan. Tapi apakah kalian tau tentang arti dan makna melupakan dan dilupakan? 

Lupa, adalah hal yang terbiasa sekali dilakukan manusia, semua terasa biasa saja saat kita lupa akan sesuatu. Namun, anehnya mengapa melupakan atau dilupakan bisa menjadi begitu rumit ? Tentu saja, karena berhubungan dengan hal yang paling kita sayangi, begitulah dalam perihal cinta.

Saat perpisahan merenggut sebuah kebersamaan di antara sejoli yang sedang berkasih, pastilah mereka akan melewati fase yang bernamakan saling melupakan.Membuat hidup berlarut-larut dan membutakan kesadaran.

Melupakan, adalah seseorang yang tidak ingin mengingat akan sesuatu hal yang mungkin menyakitkan.

Dilupakan, adalah hal yang tidak ingin diingat lagi.

Lalu, mengapa bisa begitu berat untuk melupakan maupun dilupakan? Sesungguhnya, lupa adalah sebuah ketidaksengajaan. Dan tak ada satu orangpun di dunia ini yang mau melupakan seincipun kisah dari hidupnya, karena mau sekeras apapun manusia berusaha melupakan, ketika otak masih berfungsi dengan baik maka memori itu akan tetap tinggal dan menjadi sejarah. Begitu juga dengan dilupakan,sesungguhnya mereka yang merasa dilupakan dan bersedih-sedih atas hal itu adalah rugi, karena apa? Karena yang melupakan tidak benar-benar ingin melupakan, dia hanya membiarkan semua berlalu. Seperti kesakitan yang terbentuk dari hubungan. 

Jadi, jika kalian berbicara bahwa ingin melupakan seseorang, itu bukan melupakan namun lebih membiarkan semua berlalu, terbawa waktu dan menjauh. Tidak untuk dilupakan.

Karena tak ada lupa yang di rencanakan, lupa adalah sebuah ketidaksengajaan. 

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...