Skip to main content

Hasil diskusi bareng Lisa sama Shinta.

Jadi gini, malem ini gue abis ngumpul sama Lisa dan Shinta. Abis diskusiin apa yang sebenernya engga perlu didiskusiin. 
Ya, engga penting gitu sih, hahaha. 

Abis nemenin Lisa beli sepatu di mall deket daerah rumah, kita bertiga ngumpul dulu di tempat paling gaul sejagat Jakarta raya, yup! Sevel.

Duduk, dan beli beberapa minuman unyu semacam milo, mau sok kayak eksmud tapi gagal, soalnya yang diomongin bukan bisnis, tapi cowok. Duaarrrr!!
Maklum, kita bertiga itu suka iseng sama cowok. Tapi kita iseng juga karena banyak alesan sih, ya misal cowok itu ngeselin atau emang gayanya sok kecakepan, biasa yang kaya gitu target kita. 
Jadi, gue tadi abis menugaskan Shinta untuk ngerjain target selanjutnya. Yap, si selebtweet itu! Hahaha. Lebih tepatnya gue minta tolong buat ngasih pelajaran ke cowok itu. 

Btw, ngomongin Shinta. Jadi dia ini udah jomblo hampir 2 tahun, semenjak putus sama pacarnya eh mantannya deng, yang gue ceritain di Grafting Corner dia belum dapet lagi penggantinya. Hahahaha, gue mau ketawain dia, tapi gue juga jomblo sih. Pffft.

Soal selebtweet itu, gue ceritain nanti aja ya kalo Shinta udah ada perkembangan buat isengin dia. Hehe. 
Nah, sekarang gue mau ceritain, si Lisa yang skakmat pas liat display picture BBM mantannya yang lagi pegang birthday cake untuk cewek barunya dia, BOOM!! 
Langsung aja di situ dia marah-marah engga jelas, ngoceh sendiri dan galau.

Gue yang sama Shinta langsung liat-liatan gitu, sok romantis padahal mah gregetan liat kelakuan Lisa. 
Jadi, Lisa tuh baru aja putus sama mantannya yang beda keyakinan itu, dia masih sayang katanya. Gue sama Shinta bingung mau bilangin tuh anak gimana lagi, yah emang susah sih kalo si mantan masih kebayang-bayang di pikiran, gue juga ngalamin hal kayak gitu tapi engga lama sih, engga lebih dari 2 bulan, gue bisa bangkit dari keterpurukkan gue sama mantan gue, Shinta pun begitu. Engga sia-sia ternyata Shinta jomblo hampir 2 tahun, yang tadinya dia paling polos soal cowok, sekarang jadi paham betul sifat dan sikap cowok, dia jadi lebih paham dari gue dan Lisa. That's right! 

Banyak kesimpulan yang bisa gue ambil sih, salah satunya; Cowok itu semakin digalauin malah semakin besar kepala. Gua setuju aja sama statement ini, makanya gue sering zbl kalo Lisa nunjukkin rasa galaunya di sosial media. Bukannya malah bikin cowok prihatin tapi malah bikin cowok ngerasa "ih gila dia galauin gue lhoo." kan nyebelin banget.

Nah, makanya gue ngotot banget sama Shinta, mau bikin Lisa tuh yang "yaudahlah, semua yang udah berlalu yaudah, life must go on, come on." Iya kan? Masih banyak gitu yang harus dipikirin ketimbang mesti galau soal cinta. 

Nih, buat yang sering galauin cinta, kalian belum pernahkan galauin 'besok bisa makan atau engga' atau sekedar mikirin biaya kehidupan sehari-hari yang makin lama makin mahal ? Mungkin bagi kalian yang masih tahap 'pendewasaan' kalian akan mikir kalo tulisan gue ini engga ada guna, tapi someday kalian pasti akan mikir bahwa tulisan gue ini inshaAllah bermanfaat. Ya gue sih engga yakin, cuma sok pede aja.

Tapi, intinya yaudahlah, buat kalian yang masih sering mikirin cinta, coba untuk lebih sadar dan buka mata, bahwa ada hal di dunia ini yang lebih 'penting' ketimbang soal cinta. Perkara menyakiti atau disakiti, itu hal yang lazim dalam asmara, tinggal bagaimana kita dewasa menghadapi itu semua, semua orang akan jatuh cinta pada masanya, pada jodohnya dan pada dunianya. Tapi jangan lupa, untuk tidak membuang waktu dan pikiran kalian hanya untuk bergulat dengan hal yang dilandaskan cinta. 

Cara terbaik untuk membalas orang yang pernah menyakiti kita adalah, dengan bangkit dan berusaha untuk sembuh. - Dara Prayoga.

Comments

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...