Skip to main content

#suratuntukmantan

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara

Surat Untuk Mantan.

Hay, kamu! Orang yang selalu aku bangga-banggakan. Orang yang aku harap bisa lebih dari sekedar menyayangi ku, orang yang aku pikir mau berjuang dan bertahan dengan seorang penipu seperti ku.
Ketahuilah, sayang. Dunia ini akan selalu berputar, dunia ini tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara. Ada sang sutradara, ada pemeran utama, ada pemeran pembantu, cameo dan figuran. Aku kira kamu adalah sang pemeran utama, yang akan bertahan terus-menerus disetiap episod drama, di setiap segmen yang sang sutradara telah rangkum. Tapi ternyata semua salah, kamu tidak paham betul tentang peran apa yang sesungguhnya kamu mainkan. Kamu lebih memilih berhenti berperan, kamu lebih memilih menyerah dengan semua yang telah sang sutradara berikan.
            Ingatkah kamu, sayang? Pada episod pertama, bagaimana sang sutradara memberikan skenario yang sangat perih untukku? Sang sutradara memberikanku sebuah dilemma, dilemma bagaimana caraku untuk bisa melanjutkan ke episod selanjutnya. Saat sang sutradara memberimu godaan baru, mengingatkan mu dengan seorang mantan yang mungkin saja kamu masih mencintainya, ketika drama tentang-kita- dimulai?
            Ingatkah kamu, bagaimana caraku bertahan denganmu? Ketika sang sutradara memberimu skenario tanpa aku tahu? Ketika, entah siapa dia-mantanmu atau bukan- memberikan bukti kebusukkanmu berupa foto-kalian- berdua didalam satu kamar? Dan kamu bilang, itu bukan kamu? Oh Tuhan, sandiwara bodoh apa yang ingin kamu tunjukkan kepadaku, Sayang ?
            Masih ada lagi, Bumw. Ketika kamu memberanikan diri, membodohi publik dengan segala tipu daya yang kamu rangkum sendiri, dengan sudut pandang yang kamu buat sendiri dan dengan plot kamu yang sungguh mengecewakan, boleh kah aku menertawakanmu sedikit? Dan bahkan menertawakan diriku sendiri, menertawakan segala kebodohanku ketika sering kali kamu menipu, dan tanpa ragu aku memaafkanmu, kemudian memberimu kesempatan. Kamu membuat naskah, dimana kamu dengan dia- adik kelasmu, yang juga sepupu temanku dan lebih parahnya dia juga telah bertunangan- aku yakin, kamu tidak akan lupa dengan naskah ini, Sayang. Skenario yang kamu buat-buat, namun begitu baiknya sang figuran, memberitahuku tentang semua kebohonganmu. Mereka justru lebih menganggap hubungan kita ini penting, tanpa kamu sadari, mereka peduli, mereka ingin drama kita berlanjut hingga episod terakhir, hingga sang sutradara lelah menulis naskah, dan membiarkan drama kita berakhir dengan bahagia. Kamu pasti tahu, dan kamupun menyaksikan dimana saat si pemeran pembantu itu-tunangan perempuan yang kamu rayu- mehunjam seluruh nadiku, didepan kedua orangtua mu, menghujatku, berteriak tanpa bahasa yang patut ditiru, dan aku tetap membelamu, Sayang. Ingat ?
            Belum bersambung sayang, masih ada lagi. Ketika aku telah memberikan semua yang aku punya, bahkan diluar sang Sutradara minta. Tapi apa reward yang kamu beri? Duhai sang kekasih hati, kamu merobek semua harapan yang telah aku tulis, kamu membakar denyut nadiku, kamu membuat seluruh duniaku sunyi. Kamu membuat seluruh darahku berhenti mengalir. Kamu membuat aku buta arah. Iya, kamu mengajak dia-masih mantanmu pada episod pertama- kerumahmu, bertukar pesan melalui BlackBerryMessanger kakak laki-lakimu. Meminta foto-foto baka-nya, meminta gambar tidak senonoh tubuhnya, dan dibagikan kedunia maya. Hahaha. Apa kamu tau? Bagaimana aku bisa melupakan itu semua? Hati dan logika ku berkecamuk sepanjang pagi, sepanjang hari, Sayang. Hati dan logika ku berperang.
            Dan sekarang, apa yang kamu beri kepadaku ? apa balasannya?
Aku merasa bodoh, dan tolol sekali. Aku masih terus bertanya-tanya “mengapa aku tidak semudah mengatakan “kita udahan?” seperti yang kamu lakukan dengan mudah ?
Seharusnya aku bisa mengakhiri semua pada episod awal, pada saat sang Sutradara masih bermalas-malasan menulis naskah tentang Cerita Kita.
            Ada kemungkinan, dimana sang Sutradara bosan, sang Sutradara bosan menjadikanku bahan pelacuran kesakitanmu. Sang Sutradara, ingin mengganti naskahnya, memutar balikkan segala sudut pandangnya, merevisi ulang plotnya.
            Ketika tertulis didalam naskah, tentang bagaimana sekarang aku menjadi sepertimu, ketika dimana sekarang aku yang menghunjam seluruh jantungmu, ketika aku sekarang menyurutkan semua tangismu, dan ketika aku membuat duniamu seolah berhenti.
Sang Sutradara bisa saja, ingin menunjukkan kepadaku, dia- yang mau bertahan dengan segala kekuranganku- atau dia- yang lari dari segala kejengahanku-.
Aku mungkin memang penipu, aku mungkin seorang kriminal sekarang, tapi banyak bukan penipu yang malah menjadi motivator? Atau banyak bukan kriminal yang menjadi para pemimpin?
Aku terpuruk, aku jengah dengan segala yang ada dihadapan ku sekarang, aku terperangah sendiri. Aku mengutuki apapun yang aku lakukan. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi, kamu lari dan tidak mau tahu. Kamu bahkan tidak mengulurkan tangan disaat aku terjatuh, kamu tidak memberikan pundak disaat aku menangis, bahkan disaat aku tertatih.
Aku tau, sayang. Aku lebih dulu mengalaminya, jauh sebelum kamu. Jadi jangan pikir aku tidak tau rasanya. Bukannya tidak tau, tapi aku bahkan telah hatam dengan semuanya.
Aku juga tau, sekarang logika dan hati kamupun sedang berperang, mereka berkecamuk didalam dirimu. Ketika hati kamu mengatakan bahwa kamu masih menyayangiku. Dan ketika logikamu berkata pergi dan tinggalkan penipu seperti aku.


Silahkan, pilih yang kamu mau ikuti. Hati atau logika. Dan setelah memilih, semoga kamu tidak menyesal, Sayang. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebab, Saya Terjerembab...

Cinta datang terlambat, bisa jadi karena waktu yang berlalu begitu cepat. Bisa juga  orang yang dicintai keparat.  Atau barangkali, disebabkan kesakitan yang tak pernah henti menghujani.  Akhir-akhir ini saya sedang dekat dengan seorang teman lama, ya cukup lama. Kami kenal sejak kami berada di sekolah menengah pertama. Mengagumkan, begitu saya menganggap dirinya. Entah susuk apa yang orang tuanya tanamkan padanya sehingga ia tumbuh penuh kharisma, perempuan manapun pastilah tak mamungkiri hal itu.  Singkat cerita, kami lulus sekolah, dan berpisah. Saya melanjutkan sekolah saya, dan hampir tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Hingga akhirnya, waktu berlalu. Saya tumbuh menjadi perempuan dewasa muda seperti ini, dan entah kebetulan atau campur tangan Tuhan, waktu berbaik hati, mempertemukan saya, dengan laki-laki yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Pertemuan tidak sengaja, yang saya rencanakan.  Pertemuan pertama kalinya, setelah sekian tahun. ...

Kita Tak Boleh Berpisah!

Hai, kalian!  Perempuan-perempuan tegar!  Perempuan-perempuan mandiri, aku senang diberi kesempatan untuk menulis surat ini, ku sisipkan satu surat untuk menceritakan kalian. Agar dunia tahu bahwa tidak ada perempuan lemah.  Aku yakin kalian sependapat denganku, aku tak pernah sudi dibilang lemah! Tidak!  Kalian tahu? Kalian adalah rumah, rumah tempatku untuk mengadu, rumah yang penuh sesak asap tembakau, rumah yang penuh dengan tawa atas kebodohan kita sendiri. Di mana lagi aku bisa menemukan sosok-sosok seperti kalian? Aku yakin Tuhan hanya menyiapkan satu, untukku.  Kamar berukuran 3 x 3 itu adalah saksi bisu, atas cerita-cerita kehidupan yang tak pernah lupa kita bagi satu sama lain.  Ku mohon, jangan lagi ada kesedihan, aku benci melihat kalian menangis, aku benci.  Kita perempuan-perempuan kuat, bukan?  Berjanjilah padaku untuk tidak menangisi hidup, kita sedang sama-sama berjuang, kita bersama, kita bergandengan tangan, kita keluarga. ...

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...