Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2016

#2 Diam

Say something, I'm giving up on you I'm sorry that I couldn't get to you Say Something milik A Great Big World ft Christina Aguilera mengalun lembut menyambut kedatanganku di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Jakarta sedang diguyur hujan, membuat semua orang malas keluar dari persembunyiannya. Aku salah satunya. Aku bersembunyi dari dinginnya udara Jakarta hari ini, dingin yang merasuk langsung ke tulang disebabkan hujan yang belum bosan membuat bumi basah. Sebenarnya tidak, aku tidak hanya bersembunyi dari dinginnya udara saja, aku juga bersembunyi dari perasaanku sendiri. Hujan di hadapanku berhasil memercikkan sedikit banyak perasaan ngeri. Aku bergidik berusaha mengeyahkan pikiran-pikiran tentang ia, yang hatinya pernah ku buat patah. Aku benci membenarkan mereka yang berkata bahwa semakin kita ingin bersembunyi, maka semakin mudah kita ditemukan. Kendati begitu, aku sendiri masih belum siap untuk ditemukan dalam keadaan bercucuran rasa penye...

#1 Diam

Aku mulai mempertanyakan keberanian pada induk diriku sendiri. Rasa apa yang semestinya pantas aku ungkapkan, sedangkan kita masih berupa angan? Atau mungkin, aku dan kamu memang masih enggan mengakui bahwa sebenar-benarnya cinta adalah kita? Tunggu, apa pantas aku menafsirkan sebuah aku dan kamu sebagai kita? Jika cinta diam-diam ini tak pantas kau reka, izinkan aku mengenangnya sebagai luka paling langka. Beberapa tahun lalu, saat aku dan kamu sama-sama tak paham, atau bahkan tak ingin memahami bahwa ada rasa yang kerap kali mereka sebut cinta. Inikah kenyataan yang selama ini kita buang? Kenyataan yang sama-sama kita padamkan, kenyataan yang sama-sama kita abaikan. Adakah keinginan kamu untuk kita kembali berusaha mematahkan batasan yang fasih disebut ego? Pada jemari kita yang sering kali bersentuhan tanpa sengaja, dan rengkuhan penuh dosa yang bermakna, bisakah kita melampiaskan cinta yang selama ini tenggelam pada lautan dusta?

Sadarkah?

Aku setuju, bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Cukup dengan melihat ia dengan kebahagiaannya saja mampu membuatmu tersenyum, tapi bukankah lebih menyenangkan lagi jika, jika yang menjadi penyebab ia bahagia adalah kamu? Tapi membahagiakannya, tidak harus memilikinya, bukan? Sebenarnya mudah saja, cukup dengan engkau selalu ada di sampingnya. Mendengar segala keluhannya, sanggup menjadi sandarannya, dan menjaga agar ia tak terluka. Seringkali, seseorang yang telah memiliki, lupa untuk menjaga. Sehingga memberikan kesempatan kepada mereka, orang-orang yang tak mampu memiliki, untuk mendekat semata-mata hanya untuk menjaga. Tapi tak selamanya mereka yang berhasil memiliki tidak menjaga, ada pula mereka yang mati-matian menjaga, sebab, mereka tahu seberapa istimewa ia dalam hidupnya. Kamu, sedang menjaga atau dijaga? Jika menjaga, jagalah. Ia milikmu, jangan biarkan orang lain merebut, kau tak akan tahu seberapa banyak yang menginginkannya, dan berusaha me...