Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2016

Sebuah Peluk

Pada pelukan-pelukan yang belum dikabulkan oleh sang Tuan. Ada detak jantung yang ingin ku dengar suaranya. Ada napas yang ingin ku nikmati embusannya. Ada pundak yang ingin ku rengkuh. Dan, ada dada yang ingin ku dekap. Semuanya terjadi dalam satu waktu, adalah saat pelukan yang penuh ketidakmungkinan itu diizinkan Tuhan. Pelukan yang bisa menjadi apa saja. Menjadi rumah, untuk tempat berkeluh kesah pulang. Menjadi wadah, untuk airmata jatuh dan membasahi pakaian sang Tuan. Menjadi langit, untuk mata hati yang mulai memburam. Atau bahkan menjadi lagu, untuk menampung lirih-lirih sendu. Aku bahkan rela, tertinggal dalam sebuah peluk, selama sang pemilik sanggup memeluk.

Pamit

Setelah sekian banyak malam ku lalui, setelah sekian banyak waktu ku biarkan pergi, aku masih di sini.  Dalam keadaan hati yang tak kuat lagi berdiri sendiri. Menopang pondasi hubungan kita. Ku pastikan kita masih ada, biarpun ragu telah merenggut segala keyakinan, aku hampir kehilangan cara yang baik untuk menjaganya.  Tuan, apa telingamu masih berfungsi? oh, maaf pertanyaanku terlalu mengada-ngada ya? Ah, tapi aku serius. Apa masih?  Ku yakin masih, tapi apa kau mendengar semua suara yang aku bisikan padamu selama ini? Apa kau mendengar aku sebaik kau mendengar deru angin malam yang setiap hari kau tembus dengan sepeda motormu?  Bolehkah aku ingatkan lagi, berapa kali aku ingin menyerah menggenggam hubungan kita ini? Rasanya melepaskan adalah satu-satunya pilihan terakhir.  Tuan, aku ingin pamit.  Ketahuilah, Tuan. Pamit tidak selalu berarti pergi selamanya.  Aku ingin, karena jemariku tak lagi kokoh untuk menggenggam kita. Lengan...