Minggu malam yang panjang, namun aku tetap berusaha menikmati tembakau yang aku hisap dalam-dalam, dengan embusan napas yang terengah-engah dan debar jantung yang tak lagi berirama. Aku sedang berusaha, berusaha mengeyahkan pikiran tentang seseorang yang keberadaannya sulit kujangkau, masih dalam perihal menunggu pagi, kemudian sibuk dengan hari-hari. Sekian kali aku mengatakan bahwa aku benci menunggu, aku benci merasakan waktu berlalu, tapi ia tak juga mengerti. Membohongi diri sendiri dengan menjadi perempuan serba mengerti, meski diabaikan, meski –mungkin- tak diingat. Menyelaraskan ego dengan kesabaran, agar semua tak berantakan. Haruskah aku melukai hati lagi? Dengan membunuh induk perasaan yang dinamakan cinta, dan mengubur anak-anak rindu yang sudah berkumpul ingin menyerbu. Kau menyebut kita, tapi aku tak merasa. Aku lebih nyaman menyebut kau dan aku, karena nyatanya kita adalah hal yang semu. Lantas, bagaimana kau bisa menyebut kau dan aku sebagai kita, se...
Nothing can be communicated without words but if you really care about someone, even the smallest details are important to notice.